JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan, melontarkan kritik sekaligus tantangan kepada PT Kimia Farma untuk segera menemukan produk unggulan baru yang mampu mendongkrak kinerja perusahaan. Meski mengapresiasi perbaikan yang terjadi di Bio Farma Group pasca-holdingisasi, Nasim menilai Kimia Farma masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar yang tidak boleh diabaikan.
Dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI bersama Bio Farma Group di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (9/6/2026), Nasim menyoroti belum optimalnya performa Kimia Farma sebagai salah satu entitas penting dalam holding BUMN farmasi.
Menurutnya, perusahaan harus memiliki strategi yang jelas untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru di tengah persaingan industri kesehatan yang semakin ketat. Selain itu, kualitas layanan di klinik-klinik Kimia Farma juga harus terus ditingkatkan agar mampu menjadi rujukan masyarakat.
“Saya ingin tahu apa penyebabnya dan apa solusi yang akan dilakukan. Produk apa yang bisa menjadi andalan agar Kimia Farma lebih baik ke depan. Klinik-klinik Kimia Farma juga harus menjadi perhatian karena seharusnya mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dan menjadi contoh bagi masyarakat,” tegas Nasim.
Politisi Fraksi PKB itu menilai keberhasilan holdingisasi tidak boleh hanya diukur dari laporan keuangan yang membaik. Lebih dari itu, transformasi harus menghasilkan inovasi produk dan layanan yang mampu memperkuat posisi industri farmasi nasional.
Nasim mengingatkan bahwa tantangan sektor farmasi ke depan semakin kompleks. Karena itu, Kimia Farma dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menghadirkan terobosan yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun masyarakat.
Meski memberikan kritik, Nasim tetap mengapresiasi capaian Bio Farma Group yang dinilai berhasil keluar dari berbagai tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ia berharap momentum perbaikan tersebut dimanfaatkan untuk melakukan pembenahan yang lebih agresif.
“Saya mengapresiasi jajaran direksi karena tidak mudah mengelola industri farmasi di Indonesia. Sejak menjadi holding, Bio Farma sudah menunjukkan kondisi yang lebih baik dan mampu mencatatkan perbaikan kinerja,” ujarnya.
Nasim menegaskan, tanpa inovasi produk dan peningkatan kualitas layanan, Kimia Farma akan sulit menjadi pemain utama dalam industri kesehatan nasional yang semakin kompetitif. Karena itu, ia meminta manajemen segera menyusun langkah konkret agar perusahaan mampu tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan di masa depan (red)

Berita terkait