JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh, menegaskan bahwa negara tidak boleh abai apalagi membungkam tragedi pemerkosaan massal Mei 1998 yang hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi para korban.
Menurutnya, pengakuan atas peristiwa tersebut merupakan langkah penting dalam menegakkan keadilan dan memulihkan martabat korban yang selama ini terpinggirkan.
“Negara seharusnya hadir, bukan malah membungkam atau mengaburkan praktik biadab yang pernah terjadi,” ujar Ninik, sapaan akrabnya, di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Ia menilai, sikap penyangkalan terhadap tragedi tersebut justru memperkuat impunitas dan mengirim pesan keliru bahwa kekerasan terhadap perempuan dapat dibiarkan tanpa konsekuensi hukum.
Lebih lanjut, Ninik menekankan bahwa tanggung jawab negara tidak hanya berhenti pada pengakuan, tetapi juga mencakup perlindungan dan pemulihan menyeluruh bagi para penyintas.
“Tanpa keberanian untuk mengungkap kebenaran, kita sedang mewariskan ketidakadilan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga ingatan kolektif atas tragedi tersebut sebagai bagian dari pembelajaran sejarah.
Menurutnya, dukungan masyarakat sipil, akademisi, dan pemangku kebijakan sangat diperlukan agar perjuangan keadilan bagi korban tidak berhenti di tengah jalan.
“Ini bukan sekadar soal masa lalu, tetapi komitmen kita terhadap nilai-nilai kemanusiaan ke depan,” pungkasnya (red)

Berita terkait