JAKARTA, BERITA SENAYAN – Pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada harga barang, tetapi juga berpotensi menekan sektor usaha kecil dan menengah. Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, Bertu Merlas, menyoroti risiko kenaikan suku bunga acuan yang dapat mempersempit akses pembiayaan bagi pelaku UMKM.
Menurut Bertu, langkah bank sentral untuk menahan laju pelemahan rupiah melalui kebijakan suku bunga memang diperlukan, namun memiliki konsekuensi serius terhadap sektor riil.
“Jika suku bunga meningkat, akses pembiayaan bagi UMKM semakin sulit. Ini berdampak buruk pada aktivitas usaha. Pada akhirnya, ekspansi usaha melambat dan penyerapan tenaga kerja bisa terganggu,” ujarnya di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Ia menilai kondisi ini menempatkan pemerintah pada posisi dilematis antara menjaga stabilitas moneter dan memastikan keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Dalam situasi tersebut, Bertu menekankan pentingnya kebijakan yang seimbang agar tekanan terhadap pelaku usaha tidak semakin besar, terutama di tengah melemahnya nilai tukar rupiah.
“Pemerintah harus menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan keberlangsungan sektor riil,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa sektor UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional, sehingga perlindungan terhadap akses pembiayaan menjadi krusial dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Bertu pun mendorong pemerintah untuk menghadirkan kebijakan pendukung, termasuk insentif fiskal dan kemudahan kredit, agar pelaku UMKM tetap mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global.
“UMKM harus tetap diberi ruang untuk tumbuh. Jangan sampai kebijakan moneter justru mempersempit ruang gerak mereka,” pungkasnya (red)

Berita terkait