JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Irmawan, mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera merealisasikan proyek perpanjangan landas pacu (runway) Bandara Alas Leuser di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Menurutnya, proyek tersebut tidak boleh terus tertunda karena menyangkut keselamatan masyarakat dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Desakan itu disampaikan Irmawan dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI bersama Kementerian Perhubungan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Legislator asal Aceh tersebut mengingatkan bahwa Gayo Lues pernah mengalami kondisi terisolasi akibat bencana alam yang memutus seluruh akses transportasi darat selama berbulan-bulan. Saat itu, proses distribusi bantuan kemanusiaan terkendala karena Bandara Alas Leuser hanya memiliki landasan pacu yang mampu melayani pesawat berukuran kecil.

Menurut Irmawan, pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran agar pemerintah memperkuat infrastruktur transportasi udara di wilayah pedalaman.

“Pengalaman masa lalu harus jadi pelajaran mahal. Runway Bandara Alas Leuser wajib segera diperpanjang agar bisa didarati pesawat berbadan lebih besar. Proyek ini sudah dijanjikan pemerintah dan kami menuntut Kemenhub menjadikannya prioritas utama pada tahun anggaran 2027 demi keselamatan rakyat,” tegas Irmawan.

Ia menilai keberadaan bandara dengan landasan pacu yang memadai akan mempercepat distribusi bantuan saat keadaan darurat sekaligus meningkatkan konektivitas masyarakat di wilayah pedalaman Aceh.

Selain menyoroti pembangunan Bandara Alas Leuser, Irmawan juga mengkritik kebijakan pengurangan jadwal penerbangan di Aceh yang dinilai semakin mempersempit akses transportasi masyarakat.

Ia mengungkapkan bahwa frekuensi penerbangan reguler rute Medan–Banda Aceh kini hanya tersisa satu kali dalam sehari. Sementara itu, penerbangan perintis menuju Aceh Tenggara hanya beroperasi dua kali dalam sepekan.

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat, aktivitas pemerintahan, distribusi logistik, hingga layanan kesehatan di daerah-daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

“Transportasi udara di Aceh itu bukan barang mewah, melainkan urat nadi vital masyarakat, terutama di daerah pedalaman yang akses daratnya terbatas. Kami meminta Kemenhub mengintensifkan kembali pengelolaan bandara perintis dan reguler. Jangan sampai pelayanan ke masyarakat justru mundur,” ujarnya.

Irmawan menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur transportasi di Aceh tidak boleh hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan faktor keselamatan, pemerataan pelayanan publik, dan mitigasi bencana.

Karena itu, ia meminta Kementerian Perhubungan menjadikan perpanjangan runway Bandara Alas Leuser sebagai salah satu prioritas pembangunan pada tahun anggaran 2027 agar wilayah pedalaman Aceh memiliki akses transportasi udara yang lebih aman, cepat, dan andal saat kondisi normal maupun darurat (red)