JAKARTA, BERITA SENAYAN – Memasuki usia ke-62 tahun pada 20 Oktober 2026 ini, Partai Golkar menghadapi pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar seberapa besar kekuatan politiknya, melainkan apakah partai ini mampu menyiapkan generasi penerus tanpa terjebak dalam lingkaran elite yang sama?
Bagi partai yang memiliki sejarah panjang dalam kawah candradimuka dunia politik Indonesia, keberhasilan sebuah partai tidak cukup diukur dari jumlah kursinya di parlemen, jabatan di pemerintahan, atau kemampuannya menjaga koalisi. Ukuran yang lebih mendasar adalah kemampuannya membuka jalan bagi kader baru untuk tumbuh, memperoleh kepercayaan, dan mengambil tanggung jawab kepemimpinan partai.
Di sinilah kepemimpinan Bahlil Lahadalia memperoleh relevansinya. Sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada Agustus 2024, Bahlil memiliki kesempatan untuk mendorong pembaruan yang tidak berhenti pada pergantian figur di puncak pimpinan partai. Tantangannya adalah menjadikan regenerasi sebagai cara kerja partai, bukan sekadar slogan yang dihidupkan setiap kali ulang tahun tiba.
Regenerasi Bukan Sekadar Pergantian Usia
Golkar lahir pada 20 Oktober 1964 melalui pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya. Sejak awal, organisasi ini menghimpun beragam kelompok fungsional, mulai dari kalangan pemuda hingga organisasi profesi. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa Partai Golkar memiliki pengalaman panjang dalam mengorganisir kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Namun, kemampuan menghimpun banyak unsur tidak otomatis menjamin tersedianya ruang yang adil bagi kader untuk berkembang.
Regenerasi politik harus dibedakan dari sekadar menghadirkan orang berusia muda dalam kepengurusan. Usia memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Yang lebih menentukan ialah apakah anak muda diberi kesempatan memahami persoalan publik, mengembangkan kapasitas, menyampaikan kritik, dan membuktikan kemampuan melalui tanggung jawab nyata. Partai yang sehat tidak semestinya membuat kader muda terus-menerus menunggu giliran di belakang seniornya. Pengalaman generasi terdahulu tetap diperlukan, tetapi pengalaman itu seharusnya menjadi sumber pembelajaran, bukan alasan untuk menutup akses kepemimpinan.
Dalam konteks ini, Bahlil mempunyai modal sekaligus pekerjaan rumah. Ia datang dari latar belakang yang tidak sepenuhnya identik dengan pola elite politik yang tumbuh melalui warisan nama keluarga. Perjalanan politik dan organisasinya memperlihatkan bahwa jalur menuju kepemimpinan dapat ditempuh melalui pengalaman, jaringan, dan kemampuan membangun dukungan. Namun, pengalaman personal seorang ketua umum tidak dengan sendirinya mengubah wajah dan budaya organisasi partai. Justru di sinilah ukuran kepemimpinan diuji: apakah jalan yang pernah ditempuh seorang pemimpin dapat dibuka lebih lebar bagi orang lain?
Dari Kabinet ke Ruang Kaderisasi
Di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, ada dua hal yang patut dicermati: konsolidasi internal dan regenerasi. Keduanya saling berkaitan. Partai yang terus-menerus disibukkan konflik internal akan kesulitan menyiapkan kader masa depan. Sebaliknya, soliditas yang tidak disertai pembaruan berisiko menjadikan organisasi besar, tetapi tertutup terhadap perubahan.
Salah satu capaian yang layak dicatat ialah pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) di 38 provinsi yang berlangsung tanpa konflik yang berujung pada perpecahan partai. Seluruh proses penyelesaian Musda juga dituntaskan di daerah, tanpa ada persoalan yang dibawa ke Jakarta. Ini menjadi pembeda dari pengalaman periode sebelumnya, ketika sengketa Musda kerap meminta penyelesaian di tingkat pusat. Capaian tersebut penting bukan semata-mata karena seluruh agenda organisasi dapat diselesaikan, melainkan karena menunjukkan peluang penguatan kemandirian struktur daerah. Organisasi yang sehat semestinya mampu mengelola perbedaan melalui mekanisme internalnya sendiri.
Kedua, regenerasi melalui komposisi kader Partai Golkar di pemerintahan. Bagian ini dapat menjadi salah satu gambaran mengenai bagaimana partai menyiapkan sumber daya manusianya. Di Kabinet Merah Putih, sejumlah kader Partai Golkar memegang jabatan strategis. Mereka memiliki latar belakang, pengalaman, dan rekam jejak yang beragam. Muhammad Sarmuji (Sekjen DPP Partai Golkar sekaligus Menteri Perindustrian), Wihaji (Ketua Umum Ormas MKGR & Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN), Maman Abdurrahman (Menteri UMKM), Mukhtarudin (Menteri P2MI), Ace Hasan Syadzily (Gubernur Lemhanas) adalah nama-nama yang – meminjam istilahnya Ilham Akbar Mustafa – menjadi generasi baru Partai Golkar.
Mereka menapaki karier politiknya sejak menjadi aktivis mahasiswa dan memiliki latar belakang dan rekam jejak yang nyaris sama dengan Bahlil. Bermula dari menjadi aktivis mahasiswa di era Orde Baru dan Reformasi, kemudian merangkak naik menjadi elit politik di dalam tubuh Partai Golkar tanpa menyandang nama besar dan embel-embel dari trah tertentu.
Karena itu, persoalannya bukan apakah para menteri tersebut mempunyai nama besar atau tidak. Penilaian seperti itu terlalu sederhana untuk menjelaskan regenerasi dalam tubuh Partai Golkar. Pertanyaan yang lebih penting ialah bagaimana Partai Golkar menyiapkan orang-orang tersebut, bagaimana mereka memperoleh kesempatan, serta apakah kader di luar lingkaran elite juga mempunyai jalur yang terbuka untuk mencapai posisi serupa.
Kehadiran kader dalam pemerintahan seharusnya menjadi sarana pembelajaran politik. Pengalaman mengelola kementerian, menyusun kebijakan, berhadapan dengan birokrasi, dan mempertanggungjawabkan keputusan kepada publik merupakan bekal penting bagi proses kaderisasi. Akan tetapi, jabatan pemerintahan bukanlah sertifikat otomatis atas keberhasilan sebuah partai. Kinerja tetap harus dinilai berdasarkan hasil, integritas, dan dampaknya terhadap masyarakat.
Bagi Partai Golkar, tantangannya adalah memastikan pengalaman pemerintahan tidak hanya dinikmati oleh segelintir elite. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kader di tingkat nasional perlu ditransmisikan kepada pengurus daerah, kader muda, dan anggota Partai Golkar yang selama ini bekerja di tingkat akar rumput. Di titik inilah pendidikan politik menjadi penting. Bukan sekadar mengajarkan strategi memenangkan pemilihan, melainkan juga melatih kader membaca persoalan masyarakat, memahami kebijakan publik, mengelola perbedaan, serta menyusun solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Langkah penguatan sistem kaderisasi partai melalui Akademi Partai Golkar, termasuk pelaksanaan Training of Trainers pada Agustus 2026, menunjukkan adanya upaya serius membangun proses kaderisasi yang lebih terstruktur. Bahlil sendiri menempatkan akademi tersebut sebagai instrumen untuk menyiapkan pemimpin masa depan. Upaya tersebut tentunya patut diapresiasi, tetapi keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan, peserta, atau sertifikat yang diterbitkan. Ukuran sesungguhnya terletak pada perubahan kualitas kader setelah pelatihan: apakah mereka lebih memahami persoalan publik, lebih mampu bekerja, dan memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk memimpin.
Ulang Tahun sebagai Ujian Masa Depan
HUT ke-62 Partai Golkar tahun ini haruslah menjadi momentum untuk menilai apakah partai ini benar-benar sedang menyiapkan masa depan bagi kader mudanya. Kepemimpinan Bahlil menawarkan peluang untuk memperluas ruang bagi generasi baru, memperkuat pendidikan politik, dan menghubungkan pengalaman kader senior dengan energi kader muda. Namun, peluang bukanlah hasil akhir. Akademi partai, pelatihan AMPG, dan kehadiran kader di pemerintahan baru akan berarti apabila semuanya membentuk jalur kepemimpinan yang terbuka, terukur, dan berkelanjutan.
Partai Golkar telah melewati banyak perubahan zaman. Tantangan berikutnya bukan semata-mata mempertahankan relevansi di tengah persaingan politik, melainkan memastikan bahwa organisasi ini tidak kehilangan kemampuan untuk memperbarui dirinya sendiri. Dan, pada usia ke-62 tahun ini, warisan terpenting yang dapat dibangun Bahlil bukanlah sekadar memperkuat posisi ketua umum atau memperbesar pengaruh partai. Warisan itu adalah sistem yang memungkinkan kader terbaik tumbuh tanpa harus menunggu kedekatan dengan pusat kekuasaan.
Sebab, ukuran regenerasi yang sesungguhnya bukan berapa banyak anak muda yang masuk ke dalam partai, melainkan berapa banyak dari mereka yang benar-benar memperoleh kesempatan untuk ikut menentukan arah partai. Jika kesempatan itu terbuka, Partai Golkar tidak hanya merayakan usia panjangnya. Ia sedang menyiapkan alasan untuk tetap relevan di masa depan.
Selamat HUT ke-62 tahun Partai Golkar. Teruslah mengakar bersama rakyat!
*M. Fauzan Irvan, Penulis adalah Wakil Ketua DPD Partai Golkar dan Ketua PD AMPG DKI Jakarta*

Berita terkait