JAKARTA, BERITA SENAYAN — Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam tiga besar menteri dengan persepsi kinerja positif dinilai menjadi sinyal penting bagi kepercayaan publik.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Prof. Dr. Eric Hermawan menilai capaian tersebut merupakan modal positif bagi Bahlil. Namun, menurutnya, persepsi publik dalam survei harus segera dikonversi menjadi capaian kebijakan yang konkret dan dirasakan masyarakat.

Dalam survei IPO periode 27 Juli–3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden, Bahlil memperoleh penilaian positif sebesar 32 persen. Ia berada di posisi ketiga setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan 42,8 persen dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebesar 33,5 persen.

“Pak Bahlil memperoleh 32 persen, hanya terpaut 1,5 poin dari Pak Teddy. Ini menunjukkan bahwa persepsi publik terhadap kinerja beliau tetap kuat di tengah tingginya sorotan terhadap sektor yang beliau tangani,” ujar Eric lewat keterangan yang diterima Berita Senayan, Senin (10/08).

Menurut Eric, posisi Bahlil menjadi menarik karena sektor yang berada di bawah kewenangan Kementerian ESDM merupakan sektor yang sangat strategis sekaligus memiliki tingkat pengawasan publik yang tinggi, mulai dari energi, pertambangan, investasi hingga hilirisasi.

Bahlil bahkan berada di atas sejumlah menteri lain dalam survei tersebut. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperoleh penilaian positif 30,9 persen, sementara Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono berada di angka 25,3 persen.

Popularitas Bahlil Hampir Setara dengan Persepsi Kinerja

Eric juga menyoroti tingkat popularitas Bahlil yang mencapai 32,8 persen. Angka tersebut relatif berdekatan dengan tingkat penilaian positif terhadap kinerjanya yang berada di angka 32 persen.

Ia mengingatkan bahwa kedua indikator tersebut merupakan ukuran yang berbeda dan tidak dapat dimaknai secara langsung sebagai tingkat kepuasan dari seluruh masyarakat yang mengenal Bahlil.

Namun, kedekatan kedua angka tersebut tetap dinilai menarik untuk melihat posisi Bahlil dalam persepsi publik.

“Secara kasar, kedekatan antara angka popularitas dan penilaian positif ini merupakan sinyal yang sangat menarik. Artinya, angka persepsi positif terhadap kinerja Pak Bahlil hampir sebesar tingkat pengenalan publik terhadap beliau,” jelas Eric.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap Kementerian ESDM sekaligus agenda pemerintah Presiden Prabowo Subianto.

Persepsi positif terhadap kinerja Menteri ESDM, lanjut Eric, dapat memberikan sentimen positif terhadap agenda pemerintah dalam bidang investasi, ketahanan energi, pengelolaan sumber daya alam dan hilirisasi.

“Ini bukan hanya soal personal Pak Bahlil. Persepsi positif terhadap kinerja Menteri ESDM juga dapat memberikan sentimen positif terhadap kementerian yang dipimpinnya, Partai Golkar, dan agenda pemerintahan Presiden Prabowo,” katanya.

Meski demikian, Eric mengingatkan agar hasil survei tidak membuat pemerintah terlena. Menurutnya, angka 32 persen harus dipandang sebagai modal sekaligus tantangan bagi Bahlil.

Terlebih, sektor energi, pertambangan dan hilirisasi merupakan bidang yang memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus mendapat sorotan ketat dari masyarakat.

“Karena sektor yang ditangani Pak Bahlil bersifat pro-growth tetapi sekaligus high scrutiny, maka angka 32 persen harus dibaca sebagai modal sekaligus tantangan,” tegas Eric.

Ia menilai kebijakan di sektor tersebut harus mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan aspek tata kelola, kepastian investasi, penerimaan negara, lingkungan serta manfaat langsung bagi masyarakat.

Karena itu, Eric berharap persepsi positif yang tercermin dalam survei IPO dapat diikuti dengan hasil kebijakan yang terukur.

Ia mendorong Bahlil dan jajaran Kementerian ESDM memperkuat kinerja dalam enam hingga 12 bulan ke depan, khususnya dalam meningkatkan ketahanan energi, investasi berkualitas, hilirisasi, penciptaan lapangan kerja serta nilai tambah sumber daya alam.

“Survei adalah cermin persepsi pada satu periode, sedangkan pembuktian akhirnya adalah hasil nyata yang dapat dilihat dan dirasakan rakyat,” pungkas Eric.

Survei IPO tersebut menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen (red)