JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Neng Eem Marhamah Zulfa, mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) menyusul meningkatnya proporsi kasus influenza di masyarakat.

Menurut Neng Eem, kesiapan rumah sakit hingga fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) menjadi penting untuk mengantisipasi peningkatan pasien, terutama kelompok rentan seperti balita dan lanjut usia.

“Kami mendapat informasi adanya peningkatan kasus Influenza A di masyarakat. Kondisi ini perlu direspons dengan memperkuat pelayanan kesehatan dan kesiapan rumah sakit dalam menangani pasien yang terinfeksi harus jadi prioritas,” ujar Neng Eem di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Desakan tersebut disampaikan Neng Eem setelah melihat data surveilans Kemenkes hingga 19 September 2026. Dalam laporan pengawasan influenza dan COVID-19, Kemenkes mencatat proporsi positif influenza pada minggu ke-36 mencapai 46 persen, meningkat dari 35 persen pada minggu sebelumnya.

Pada periode tersebut, dari 185 spesimen yang diperiksa, terdapat 86 kasus positif influenza. Sebanyak 76 kasus merupakan Influenza A(H1N1)pdm09), delapan kasus Influenza A(H3N2), dan dua kasus Influenza B Victoria. Kemenkes juga mencatat 42 persen kasus influenza yang terdeteksi pada periode tersebut terjadi pada kelompok usia 0–4 tahun. Data ini menjadi salah satu alasan Neng Eem meminta perhatian lebih terhadap kelompok rentan.

Faskes Diminta Jangan Sampai Kewalahan

Neng Eem meminta pemerintah memastikan kesiapan layanan kesehatan sejak tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan. Menurutnya, penguatan tidak hanya diperlukan ketika pasien sudah mengalami kondisi berat. Sistem deteksi dini dan kesiapan tenaga medis juga perlu diperkuat untuk mencegah fasilitas kesehatan menghadapi lonjakan pasien secara mendadak.

“Jangan sampai peningkatan kasus membuat fasilitas kesehatan kewalahan. Pemerintah harus memastikan kesiapan layanan kesehatan mulai dari tingkat pertama hingga rumah sakit dalam melakukan deteksi dan penanganan pasien,” katanya.

Ia juga meminta Kemenkes memperketat sistem surveilans serta memastikan ketersediaan obat-obatan dan kesiapan tenaga kesehatan di FKTP.

Neng Eem menilai kelompok rentan perlu memperoleh perhatian lebih dalam menghadapi peningkatan kasus influenza. Selain balita, lansia juga membutuhkan akses pemeriksaan dan penanganan yang cepat ketika mengalami gejala yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan.

“Anak-anak dan lansia harus menjadi perhatian khusus karena termasuk kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan ekstra. Pemerintah harus memastikan mereka mendapatkan akses pemeriksaan dan penanganan yang cepat,” tegas Neng Eem.

Data Kemenkes sendiri menunjukkan kasus influenza pada minggu ke-36 paling banyak ditemukan pada kelompok usia 0–4 tahun. Meski demikian, Kemenkes menyebut tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah dan situasi masih terkendali.

Masyarakat Diminta Tidak Panik

Di tengah peningkatan proporsi kasus, Neng Eem mengimbau masyarakat tidak panik. Ia meminta warga meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta memperhatikan kondisi kesehatan anggota keluarga. Masyarakat juga diminta mengenali sejumlah gejala yang dapat muncul, seperti demam, menggigil, nyeri otot, hingga sesak napas.

“Kami meminta masyarakat tetap tenang, tidak panik, serta meningkatkan kewaspadaan melalui pola hidup bersih dan sehat. Jika mengalami gejala berat atau kondisi memburuk, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tutur Neng Eem.

Selain kesiapan faskes, Neng Eem meminta pemerintah memperkuat edukasi publik mengenai influenza. Menurutnya, informasi yang akurat dibutuhkan agar masyarakat dapat memahami gejala, langkah pencegahan, serta kapan harus mencari pertolongan medis.

“Pemerintah perlu memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai gejala dan pencegahan Influenza A. Edukasi publik yang cepat akan membantu warga mengambil keputusan medis yang tepat,” pungkasnya.

Kemenkes saat ini memantau influenza melalui jejaring sentinel yang mencakup puskesmas, rumah sakit, dan Balai Karantina Kesehatan. Pemantauan tersebut digunakan untuk melihat tren penyakit, karakteristik virus, hingga tingkat keparahannya.

Bagi Neng Eem, penguatan surveilans perlu berjalan beriringan dengan kesiapan layanan. Dengan demikian, perubahan tren kasus dapat terdeteksi lebih awal dan diikuti respons pelayanan kesehatan yang sesuai.

Ia berharap pemerintah dapat memastikan kesiapan faskes sekaligus menjaga penyampaian informasi kepada masyarakat tetap akurat. Langkah tersebut dinilai penting agar peningkatan kasus influenza dapat direspons secara terukur tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat (red)