JAKARTA, BERITA SENAYAN — Partai Golkar yang dipimpin Bahlil Lahadalia kembali menunjukkan kekuatan elektoral dalam peta politik nasional. Berdasarkan survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO), Golkar menempati posisi tiga besar partai politik dengan elektabilitas tertinggi dengan raihan 10,4 persen.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan capaian tersebut menempatkan Golkar di posisi ketiga, berada di bawah Partai Gerindra yang memperoleh 17,5 persen dan PDI Perjuangan sebesar 12,8 persen.
“Golkar meraih elektabilitas 10,4 persen, menempati posisi ketiga setelah Partai Gerindra dengan 17,5 persen dan PDI Perjuangan 12,8 persen,” ujar Dedi dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
Posisi Golkar dalam survei tersebut sekaligus menunjukkan partai berlambang pohon beringin itu masih memiliki basis elektoral yang cukup kuat di tengah dinamika politik nasional menjelang Pemilu 2029.
Golkar tercatat unggul atas sejumlah partai politik lainnya, yakni Partai Demokrat dengan 8,1 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 7 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) 5,1 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4,6 persen, serta Partai NasDem 4,4 persen.
Golkar Masuk Tiga Besar, Bahlil Juga Tiga Besar Menteri
Capaian elektabilitas Golkar tersebut beriringan dengan penilaian positif terhadap Ketua Umumnya, Bahlil Lahadalia, yang saat ini menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dalam survei yang sama, Bahlil masuk tiga besar menteri dengan tingkat penilaian kinerja paling positif. Bahlil memperoleh tingkat kepuasan publik sebesar 32,0 persen.
Posisi pertama ditempati Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan 42,8 persen, sedangkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya berada di posisi kedua dengan 33,5 persen.
“Persepsi publik terhadap menteri yang dianggap bekerja dengan baik ini linier dengan popularitas. Menteri Purbaya menempati posisi teratas, kemudian Seskab Teddy Indra Wijaya pada posisi kedua. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketiga,” jelas Dedi.
Bahlil juga berada di posisi ketiga dalam tingkat popularitas menteri. Sebanyak 32,8 persen responden mengaku mengetahui atau mengenal Bahlil.
Angka tersebut berada di bawah Purbaya Yudhi Sadewa dengan popularitas 43,5 persen dan Teddy Indra Wijaya sebesar 41,0 persen.
Bahlil bahkan tercatat lebih populer dibandingkan sejumlah nama menteri lainnya, seperti Agus Harimurti Yudhoyono yang memperoleh 30,4 persen dan Zulkifli Hasan sebesar 26,1 persen.
Dua Modal Politik Bahlil
Menurut Dedi, hasil survei IPO memperlihatkan dua capaian yang berkaitan dengan Bahlil, yakni penilaian positif terhadap kinerjanya sebagai menteri serta posisi Golkar yang tetap bertahan di jajaran tiga besar partai politik.
“Dengan demikian, survei IPO mencatat dua capaian sekaligus yang berkaitan dengan Bahlil Lahadalia. Pada level pemerintahan, Bahlil menempati posisi tiga besar menteri yang dianggap bekerja dengan baik. Sementara pada level politik, Golkar yang dipimpinnya juga bertahan sebagai tiga besar partai dengan elektabilitas tertinggi,” tutur Dedi.
Meski demikian, Dedi mengingatkan bahwa persepsi publik terhadap pemerintah, menteri, maupun partai politik bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan sosial-politik serta kebijakan pemerintah.
“Jadi, memang kondisi masyarakat saya kira selalu dinamis dalam memberikan penilaian,” katanya.
Survei IPO tersebut dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden. Penarikan sampel menggunakan metode stratified multistage random sampling (SMRS), dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat akurasi 95 persen.
Hasil ini menjadi salah satu gambaran mengenai posisi Partai Golkar di tengah persaingan elektoral nasional. Dengan elektabilitas 10,4 persen, Golkar masih berada dalam jajaran tiga besar sekaligus memiliki modal politik penting untuk menghadapi tahapan menuju Pemilu 2029 (red)

Berita terkait