JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad, mengkritik rencana penutupan program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi mengancam keberagaman ilmu pengetahuan dan merusak fondasi pendidikan tinggi jika dilakukan tanpa kajian komprehensif.

“Menutup prodi secara prematur adalah bentuk bunuh diri intelektual yang mengancam keragaman epistemologis bangsa,” ujar Habib Syarief.

Menurutnya, pendekatan yang terlalu berorientasi pada kebutuhan industri saat ini berisiko mengabaikan peran strategis pendidikan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu dan peradaban.

Habib Syarief menjelaskan bahwa program studi merupakan bagian dari ekosistem pemikiran yang menyimpan tradisi keilmuan, riset, dan spesialisasi unik yang tidak bisa digantikan secara instan.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga ruang bagi disiplin ilmu yang dianggap marginal, karena dalam era kolaborasi lintas disiplin (trans-disciplinary), justru bidang-bidang tersebut sering menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan kompleks.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa kebijakan penutupan prodi tanpa dasar yang kuat dapat berdampak pada hilangnya ruang bagi akademisi, peneliti, dan pengajar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

“Kita tidak boleh membiarkan para pemikir kehilangan rumah intelektualnya hanya karena perubahan tren pasar yang bersifat sementara,” tegasnya.

Habib Syarief pun menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab menjaga kebebasan akademik dan keberlangsungan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari kedaulatan berpikir bangsa.

“Pendidikan tinggi bukan sekadar mengikuti kebutuhan industri, tetapi menjaga nyala api pengetahuan untuk masa depan,” pungkasnya (red)