JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, mengingatkan bahwa dinamika konflik di Timur Tengah masih berpotensi mengganggu stabilitas energi Indonesia meskipun operasi militer utama telah dinyatakan berakhir.

Pernyataan ini merespons sikap Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, yang menyebut konflik dengan Iran kini memasuki fase diplomatik.

Menurut Ratna, risiko terhadap jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz masih sangat tinggi dan dapat berdampak langsung pada harga minyak dunia.

“Risiko gangguan terhadap rantai pasok energi global tetap tinggi. Ini bisa berdampak langsung pada ekonomi domestik kita,” ujarnya di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Ia menilai ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah membuat kondisi global sangat menentukan stabilitas ekonomi nasional, termasuk potensi tekanan terhadap APBN dan inflasi.

Karena itu, Ratna mendorong pemerintah segera memperkuat ketahanan energi melalui langkah konkret, seperti pembangunan cadangan energi strategis dan diversifikasi sumber impor.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya percepatan transisi energi baru terbarukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga minyak global.

Ratna menilai selama ini kebijakan energi nasional masih cenderung reaktif terhadap gejolak global, sehingga perlu diubah menjadi lebih antisipatif dan berorientasi jangka panjang.

“Jangan sampai kita terjebak pada anggapan konflik sudah mereda, padahal risikonya masih besar,” tegasnya.

Ia memastikan DPR RI akan terus mengawal kebijakan energi agar lebih responsif terhadap dinamika global sekaligus melindungi kepentingan masyarakat (red).