JAKARTA, BERITA SENAYAN – Pengamat politik Adi Prayitno menilai meningkatnya ketegangan antara PKB dan PDIP dalam beberapa waktu terakhir merupakan bagian dari dinamika perebutan posisi politik di tengah konfigurasi kekuasaan nasional pasca Pemilu 2024.

Menurut Adi, perdebatan yang muncul bukan semata soal perbedaan pandangan politik, tetapi juga berkaitan dengan strategi masing-masing partai dalam menempatkan diri terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ia menjelaskan, PDIP saat ini mengambil posisi sebagai partai penyeimbang yang tidak masuk dalam kabinet, namun tetap mendukung kebijakan pemerintah yang dianggap berpihak kepada rakyat. Di sisi lain, PDIP juga tetap kritis terhadap kebijakan yang dinilai tidak sesuai dengan kepentingan publik.

“PDIP hari ini kan menjadi partai penyeimbang, artinya tidak menjadi bagian dari kekuasaan, tetapi pada saat bersamaan jika ada kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyat, maka PDIP akan memberikan dukungan,” ujar Adi Prayitno melalui kanal YouTube pribadinya, Minggu (21/6/2026).

Sementara itu, PKB melalui Wakil Ketua Umum DPP PKB Jazilul Fawaid sebelumnya meminta PDIP untuk bersikap lebih tegas dalam menentukan posisi, apakah berada di dalam pemerintahan atau menjadi oposisi secara konsisten.

Adi menilai, tekanan politik yang muncul dari PKB dapat dibaca sebagai dorongan agar PDIP tidak berada di wilayah abu-abu dalam peta politik nasional.

“Pesan yang ingin disampaikan PKB kurang lebih, kalau ingin menjadi bagian dari pemerintah maka dukung seluruh kebijakan pemerintah. Kalau memilih oposisi, ya konsisten berada di luar pemerintah,” jelasnya.

Namun demikian, Adi mempertanyakan konteks di balik pernyataan tersebut, karena menurutnya setiap manuver politik biasanya memiliki latar kepentingan yang lebih luas.

Ia juga menyoroti bahwa hubungan PKB dan PDIP memiliki sejarah panjang, termasuk kedekatan politik pada masa pemerintahan sebelumnya. Namun pasca Pemilu 2024, relasi kedua partai disebut mengalami pergeseran dan kini terlihat lebih konfrontatif.

“Setelah 2024, PKB dan PDIP kita saksikan ada konfrontasi dan ketegangan politik yang saling berhadapan,” pungkas Adi (red)