Oleh: MS. As-Syadzili
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Bagaimana sebuah kekaisaran raksasa yang memiliki segalanya—militer terkuat di dunia, hukum yang mapan, kas negara yang melimpah, dan teknologi mutakhir—bisa runtuh seketika oleh kelompok suku pedalaman yang terpecah belah, miskin, dan buta huruf? Jawabannya tersaji dengan sangat brutal, kolosal, dan memikat dalam serial orisinal Netflix, Barbarians (Barbaren).
Berlatar tahun 9 Masehi, serial drama sejarah asal Jerman ini mengangkat salah satu peristiwa paling traumatis, berdarah, dan mengubah jalannya peradaban Eropa: Pertempuran Hutan Teutoburg. Namun, di balik dentingan pedang, tameng yang hancur, tumpahan darah, dan intrik kolosal masa lalu, Barbarians sebenarnya adalah sebuah refleksi kontemporer yang sangat tajam tentang bagaimana anatomi kekuasaan bekerja. Menariknya, jika kita mengupas lapisan demi lapisan konflik makro dan mikro di dalamnya, kita akan menemukan benang merah yang sangat tebal, relevan, bahkan cenderung mengerikan dengan dinamika politik yang sedang bergejolak di Indonesia saat ini.
Barbarians berfokus pada sosok Arminius (Ari), seorang putra kandung dari kepala suku Cherusci (salah satu suku Jermanik) yang diambil oleh Kekaisaran Romawi sejak kecil sebagai “upeti” sekaligus jaminan perdamaian. Ia dididik secara Romawi, diajarkan taktik perang tingkat tinggi, diangkat menjadi ksatria elite (eques), dan menjadi tangan kanan kesayangan Gubernur Romawi yang berkuasa di wilayah Magna Germania, Publius Quinctilius Varus. Hubungan keduanya sangat dekat, bahkan Varus sudah menganggap Ari sebagai anak kandungnya sendiri yang paling dipercaya.
Konflik moral yang hebat memuncak ketika Ari dikirim kembali ke tanah kelahirannya untuk menekan bangsanya sendiri agar tunduk pada pajak yang mencekik, penyitaan hasil bumi, dan aturan hukum Romawi yang merendahkan martabat kemanusiaan. Di tanah kelahirannya, Ari mengalami krisis identitas yang dahsyat. Di satu sisi, ada Romawi yang memberinya kemewahan, status sosial, peradaban modern, dan masa depan gemilang. Di sisi lain, ada rakyat dan keluarga sedarahnya yang ditindas, dihina, dan sengaja diadu domba agar tetap lemah.
Ari akhirnya mengambil keputusan radikal: ia memilih berkhianat dari Romawi. Dengan memanfaatkan pengetahuan mendalamnya tentang psikologi Varus dan taktik militer Romawi yang kaku, Ari secara rahasia menyatukan suku-suku Jermanik yang selama ini saling bermusuhan, lalu menjebak tiga legiun terbaik Romawi ke dalam sebuah pembantaian historis di tengah hutan yang lebat dan berlumpur.
Romawi Kuno vs Polarisasi Digital di Indonesia
Strategi utama Romawi dalam menguasai dan mempertahankan hegemoninya di tanah Germania bukanlah dengan perang terbuka berskala besar yang menguras biaya, melainkan dengan mengeksploitasi ego dan kebencian antar-suku. Varus, sang Gubernur, tahu betul bahwa suku Cherusci, Bructeri, Chatti, dan Marsi tidak akan pernah bisa bersatu karena mereka terlalu sibuk memperebutkan wilayah, sumber daya, dan gengsi kelompok. Romawi cukup memberikan insentif ekonomi atau “hadiah” jabatan kepada salah satu kepala suku, lalu meniupkan rumor bahwa suku lain sedang merencanakan penyerangan. Hasilnya? Suku-suku tersebut saling bantai sendiri tanpa Romawi harus mengotori tangan mereka.
Kondisi geopolitik kuno ini sangat mirip dengan lanskap politik di Indonesia modern. Strategi klasik devide et impera tidak pernah benar-benar mati; ia hanya mengalami digitalisasi dan berganti baju agar tampak lebih modern.
Di Indonesia, polarisasi politik sengaja dipelihara, dirawat, bahkan diproduksi secara massal oleh para elite demi mengamankan kepentingan kekuasaan mereka. Menggunakan narasi identitas, sentimen agama, kesukuan, dan pelabelan biner yang tajam di media sosial (seperti fenomena ‘cebong-kampret’ atau polarisasi berbasis figur di pemilu), masyarakat akar rumput dibuat saling curiga, membenci, dan berkonflik satu sama lain.
Ketika perhatian masyarakat sepenuhnya tersedot dan habis dalam konflik horizontal di level bawah, para aktor politik di level atas dengan sangat tenang dan tanpa kegaduhan meloloskan berbagai regulasi kontroversial, membagi-bagi konsesi tambang, atau mengesahkan undang-undang yang menguntungkan kelompok oligarki mereka sendiri. Pola ini persis seperti Romawi yang memungut pajak tinggi dan merampas tanah pertanian saat para kepala suku Jermanik sibuk bertengkar memperebutkan validasi dari sang Gubernur.
Penunggang Dua Kaki
Salah satu karakter yang paling memuakkan sekaligus paling realistis dalam serial ini adalah Segestes, ayah dari Thusnelda (pahlawan wanita dalam serial ini). Segestes adalah representasi sempurna dari politisi oportunis tulen atau yang sering kita sebut sebagai “politisi penunggang dua kaki”. Segestes tidak pernah peduli dengan martabat, kedaulatan, atau nasib masa depan sukunya sendiri. Bagi dirinya, yang terpenting adalah bagaimana ia bisa berada di pihak yang menang. Ia rela menjilat sepatu para jenderal Romawi, membocorkan strategi rahasia bangsanya, bahkan tega mengkhianati dan menjebak anaknya sendiri demi mendapatkan posisi nyaman, pengakuan, dan jaminan keamanan finansial dari Kekaisaran Romawi.
Jika kita menengok ke panggung politik Indonesia saat ini, figur-figur oportunis sekalas Segestes sangat mudah ditemukan dan bahkan mendominasi. Pragmatisme politik telah sepenuhnya menggantikan ideologi partai atau nilai-nilai perjuangan moral. Ada dua hal yang bisa kita petik dari film serial ini bila dikontekskan dalam dunia politik di Indonesia.
Pertama, terbangunnya koalisi gemuk tanpa prinsip. Kita kerap menyaksikan pemandangan ironis di mana partai politik yang tadinya saling serang dengan narasi ideologis yang sangat tajam, saling serang di debat publik, dan mengerahkan massa untuk saling menjatuhkan saat pemilu, tiba-tiba dengan wajah tersenyum bergabung dalam satu koalisi besar yang sama setelah kontestasi selesai. Semua argumen idealis runtuh di hadapan tawaran kursi menteri atau jabatan komisaris.
Kedua, kutu loncat politik. Perpindahan kubu atau kader partai yang membelot menjelang pilkada atau pilpres bukan lagi menjadi hal yang tabu atau memalukan, melainkan dianggap sebagai kelincahan strategi atau kalkulasi politik yang cerdas. Seperti halnya Segestes, elite politik kita hari ini sering kali melihat kekuasaan bukan sebagai alat instrumen untuk membela kesentosaan rakyat, melainkan sebagai aset investasi pribadi yang harus ditempatkan di mana pun bandar kekuasaan terbesar berada.
Tragedi terbesar Romawi di Hutan Teutoburg berakar dari satu hal: kebutaan Varus akibat nepotisme dan kedekatan personal. Hubungan antara Varus dan Arminius adalah coretan moral yang paling dalam di sepanjang musim pertama serial ini. Varus begitu memercayai Arminius karena ia merasa dialah yang membesarkan, mendidik, dan membentuk Ari sesuai dengan citra dirinya yang agung. Varus mengabaikan semua laporan intelijen, menutup mata dari peringatan tertulis, dan mengabaikan bisikan dari orang lain, termasuk dari Segestes yang mencoba membocorkan rencana makar Ari, semata-mata karena bias kekeluargaan, ego, dan kedekatan emosional yang terlanjur pekat. Varus merasa tidak mungkin “anaknya sendiri” akan mengkhianatinya. Hasil dari bias nepotisme ini adalah kehancuran total: kepala Varus dipenggal dan reputasi militer Romawi hancur lebur di tangan anak didiknya sendiri.
Di Indonesia, isu mengenai politik dinasti, nepotisme, dan patronase sedang menjadi perbincangan yang sangat hangat, sensitif, sekaligus krusial di ruang publik. Pengisian jabatan-jabatan strategis, baik di struktur pemerintahan pusat, daerah, BUMN, hingga lingkaran internal partai politik, sering kali tidak lagi didasarkan pada sistem meritokrasi yang murni, transparan, dan kompeten. Sebaliknya, penunjukan diatur berdasarkan kedekatan darah, hubungan kekerabatan, atau jaminan loyalitas buta.
Penguasa atau pemimpin kelompok cenderung menempatkan “orang-orang dalam” atau anggota keluarga mereka dalam posisi-posisi kunci. Tujuan utamanya jelas: demi mengamankan keberlanjutan kekuasaan, menjaga kekayaan, dan memastikan hukum tidak akan menyentuh mereka setelah masa jabatan berakhir. Namun, serial Barbarians memberikan peringatan keras dan pesan moral yang sangat menakutkan: Ketergantungan mutlak pada lingkaran dalam yang berbasis nepotisme dan relasi kekeluargaan sering kali menciptakan titik buta (blind spot) yang sangat fatal. Ketika seorang penguasa dikelilingi oleh orang-orang yang hanya berani mengatakan hal-hal menyenangkan (asal bapak senang), penguasa tersebut sebenarnya sedang berjalan dengan mata tertutup menuju jurang keruntuhannya sendiri.
Serial Barbarians bukan sekadar tontonan visual fiksi sejarah yang memanjakan mata dengan koreografi pertempuran yang epik, sinematografi yang megah, atau desain kostum legiun Romawi yang otentik. Lebih jauh dari itu, serial ini adalah sebuah studi kasus politik yang ditulis dengan darah dan air mata. Serial ini memberikan kita sebuah peringatan historis yang universal: bahwa ketika ketidakadilan, keserakahan, adu domba, dan penindasan yang dilakukan oleh sebuah sistem yang korup sudah mencapai puncaknya, kemarahan kolektif dari rakyat yang awalnya terpecah belah bisa meledak secara tak terduga. Kemarahan itu akan melebur menjadi kekuatan destruktif raksasa yang tidak akan bisa dibendung oleh tameng militer atau aparat sekuat apa pun.
Bagi Indonesia, Barbarians adalah sebuah cermin yang sangat jernih sekaligus menakutkan. Jika para elite politik kita saat ini terus-menerus memelihara polarisasi di tingkat akar rumput, sibuk memupuk politik dinasti untuk keturunan mereka, mengabaikan hukum demi syahwat kekuasaan, dan menutup telinga dari jeritan keadilan ekonomi masyarakat demi keuntungan segelintir oligarki, maka stabilitas politik dan ekonomi yang tampak kokoh saat ini sebenarnya sangat rapuh di dalam.
Konflik horizontal yang sengaja diciptakan bisa berbalik arah menjadi konflik vertikal yang menyasar langsung jantung kekuasaan. Kita hanya perlu menunggu momentum sejarah, seperti munculnya krisis ekonomi global yang parah atau hadirnya sosok pemimpin alternatif baru yang cerdas layaknya Arminius, yang mampu menyatukan kemarahan terpendam rakyat akar rumput untuk merombak total tatanan kekuasaan yang ada.
Pertanyaannya sekarang, apakah para pemimpin dan elite politik di Indonesia mau belajar dari sejarah runtuhnya tiga legiun Romawi di Hutan Teutoburg? Ataukah mereka memilih untuk tetap keras kepala, sombong, dan buta seperti Gubernur Varus, sampai akhirnya gelombang perubahan datang dan semuanya sudah terlambat untuk disesali?
Serial ini adalah tontonan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami bahwa coretan politik kotor, sejak zaman kuno hingga era digital Indonesia hari ini, selalu memiliki pola dan akhir cerita yang sama jika kekuasaan dijalankan dengan keserakahan.
*Penulis adalah penikmat buku dan film

Berita terkait