JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ancaman kebangkrutan mulai menghantui peternak ayam petelur di berbagai daerah akibat anjloknya harga telur di tingkat produsen. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Rina Sa’adah, meminta Badan Gizi Nasional (BGN) segera turun tangan dengan menjadikan telur sebagai salah satu komoditas utama dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Rina, kondisi yang dihadapi peternak saat ini sangat memprihatinkan. Harga jual telur terus mengalami penurunan, sementara biaya produksi seperti pakan, obat-obatan, dan bibit ayam masih berada pada level tinggi. Ketimpangan tersebut membuat banyak peternak kesulitan menjaga keberlangsungan usahanya.
“Banyak peternak yang terancam kolaps. Solusinya ada di program MBG yang memiliki kuota kebutuhan pangan harian raksasa. Jika potensi ini dimaksimalkan, stabilitas harga di tingkat peternak akan langsung terkoreksi positif,” ujar Rina Sa’adah di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Legislator asal Jawa Barat itu menilai negara tidak boleh tinggal diam ketika peternak rakyat menghadapi tekanan pasar yang berpotensi mengancam sektor pangan nasional. Ia mengingatkan, apabila kondisi ini terus dibiarkan, banyak peternak akan terpaksa mengurangi populasi ayam petelur bahkan menghentikan usahanya karena tidak mampu menutup biaya operasional.
Rina menegaskan Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi solusi cepat karena memiliki kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari. Dengan menyerap telur dari peternak lokal, pemerintah tidak hanya membantu menjaga harga tetap stabil, tetapi juga memperkuat rantai pasok pangan nasional.
“Kami sangat prihatin dengan anjloknya harga telur di tingkat peternak. Kami mendesak BGN menyusun variasi menu MBG berbasis telur untuk mendongkrak penyerapan hasil produksi peternak mandiri. Ini instrumen negara yang paling logis untuk menyelamatkan ekonomi rakyat saat ini,” tegasnya.
Selain membantu peternak, Rina menilai penggunaan telur dalam menu MBG juga memberikan manfaat besar bagi peserta program. Telur mengandung protein hewani berkualitas tinggi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Menurutnya, bahan pangan tersebut juga mudah diolah menjadi berbagai menu sehingga dapat mengurangi kejenuhan anak-anak dalam mengonsumsi makanan bergizi setiap hari.
“Program MBG harus mampu menjadi solusi bagi dua persoalan sekaligus, yaitu meningkatkan kualitas gizi anak dan menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat. Jika dikelola dengan baik, manfaatnya akan sangat besar bagi masyarakat,” pungkasnya (red)

Berita terkait