SURABAYA, BERITA SENAYAN — Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026, Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Badko Jawa Timur menilai pemerintah dan otoritas moneter perlu mewaspadai sejumlah tantangan struktural yang masih membayangi perekonomian nasional.
Hal itu mengemuka dalam audiensi Bidang Hukum, Pertahanan, dan Keamanan Regional Badko HMI Jawa Timur dengan perwakilan Bank Indonesia di Surabaya, Selasa (2/6).
Ketua Bidang Hukum, Pertahanan, dan Keamanan Regional Badko HMI Jawa Timur, Dzulkarnain, mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi nasional patut diapresiasi. Namun, angka tersebut perlu dibaca secara lebih komprehensif di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang masih berada pada titik terlemahnya sepanjang sejarah. “Di satu sisi ekonomi tumbuh 5,61 persen dan menunjukkan daya tahan konsumsi domestik yang cukup kuat. Namun di sisi lain, rupiah tertekan di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. Ini menjadi sinyal bahwa stabilitas ekonomi tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan produk domestik bruto,” kata Dzulkarnain.
Menurut Dzulkarnain, ketergantungan terhadap konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan perlu diimbangi dengan penguatan sektor produktif, investasi jangka panjang, serta peningkatan daya saing ekspor nasional. Selain itu, ia menekankan pentingnya disiplin fiskal dalam menjaga defisit APBN agar tidak menambah tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor.
Dalam audiensi tersebut, perwakilan Bank Indonesia menjelaskan berbagai langkah stabilisasi yang telah dilakukan untuk menjaga nilai tukar rupiah dan stabilitas sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Faktor geopolitik internasional, penguatan indeks dolar AS (DXY), serta dinamika fiskal domestik disebut menjadi variabel utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan nasional.
Badko HMI Jawa Timur menilai tantangan ekonomi ke depan tidak hanya berkaitan dengan menjaga angka pertumbuhan, tetapi juga membangun kepercayaan publik dan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Sinergi antara disiplin fiskal yang ketat dan respons moneter yang tepat menjadi kunci untuk meredam kecemasan pasar atas pelemahan Rupiah.
Audiensi yang dihadiri jajaran fungsionaris Badko HMI Jawa Timur dan perwakilan Bank Indonesia tersebut berlangsung dalam suasana dialogis. Kedua pihak sepakat bahwa stabilitas ekonomi memerlukan sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan partisipasi aktif masyarakat sipil dalam mengawal pembangunan nasional.
Bagi HMI, pertumbuhan ekonomi yang sehat bukan semata persoalan statistik, melainkan sejauh mana hasil pembangunan mampu menghadirkan kepastian, keadilan, dan kesejahteraan bagi masyarakat. Di tengah angka pertumbuhan yang impresif, tantangan terbesar bangsa justru terletak pada kemampuan menjaga stabilitas dan kepercayaan sebagai fondasi utama ekonomi Indonesia. (red).

Berita terkait