JAKARTA, BERITA SENAYAN – Transisi kendaraan listrik di Indonesia dinilai harus menjadi peluang untuk memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kaisar Abu Hanifah, mendorong pemerintah memperkuat industri komponen kendaraan listrik dalam negeri agar manfaat investasi tidak hanya dinikmati produsen dan konsumen, tetapi juga masyarakat luas.

Menurut Kaisar, pengembangan kendaraan listrik tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan penjualan dan masuknya investasi asing. Pemerintah perlu memastikan industri nasional memiliki kemampuan memproduksi komponen, menyediakan suku cadang, serta membangun layanan perawatan dan perbaikan kendaraan listrik.

Ia menilai penguatan industri lokal dapat menciptakan rantai ekonomi baru yang melibatkan berbagai sektor usaha, termasuk UMKM dan tenaga kerja terampil.

“Jangan sampai kita terlalu sibuk mendorong masyarakat membeli mobil listrik, tetapi lupa membangun industri yang mampu merawat, memperbaiki, dan menyediakan seluruh kebutuhan kendaraan tersebut. Transisi kendaraan listrik harus menjadi momentum memperkuat industrialisasi nasional, bukan menciptakan ketergantungan baru terhadap luar negeri,” jelas Kaisar, Selasa (3/11/2026).

Legislator dari daerah pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut mengatakan, pengembangan industri pendukung kendaraan listrik dapat membuka peluang kerja di sektor manufaktur, distribusi komponen, perawatan kendaraan, hingga jasa perbaikan.

Dengan meningkatnya kapasitas produksi dalam negeri, pelaku usaha lokal juga berpeluang masuk dalam rantai pasok industri otomotif. Hal tersebut dapat memperluas kesempatan usaha sekaligus mendorong peningkatan pendapatan masyarakat.

Kaisar Abu Hanifah Dorong UMKM Masuk Rantai Pasok Kendaraan Listrik

Kaisar menilai industri kendaraan listrik nasional perlu memberikan ruang lebih besar kepada pemasok dan pelaku usaha dalam negeri. Penguatan industri komponen lokal menjadi salah satu langkah penting agar investasi di sektor kendaraan listrik menghasilkan nilai tambah yang dapat dirasakan perekonomian nasional.

Ia juga menyoroti kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Menurutnya, penerapan TKDN harus mendorong peningkatan kemampuan teknologi, transfer pengetahuan, dan pengembangan pemasok lokal, bukan hanya memenuhi persentase kandungan lokal melalui kegiatan perakitan.

“Jangan sampai secara administratif TKDN terpenuhi, tetapi kemampuan memproduksi komponen strategis dan penguasaan teknologi masih terbatas. Investasi kendaraan listrik harus memberikan nilai tambah nyata bagi industri nasional,” tegasnya.

Selain mendorong produksi komponen, Kaisar meminta pemerintah mengembangkan jaringan bengkel kendaraan listrik dan meningkatkan jumlah teknisi bersertifikat. Ketersediaan tenaga terampil dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik sekaligus membuka peluang pekerjaan baru.

Ia juga mendorong pemetaan terhadap berbagai komponen yang masih bergantung pada impor. Dengan mengetahui kebutuhan dan kemampuan produksi dalam negeri, pemerintah dapat menyusun strategi pengembangan industri yang lebih terarah.

Menurutnya, peluang tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat keterlibatan UMKM dalam ekosistem kendaraan listrik, baik sebagai pemasok komponen maupun penyedia layanan pendukung.

Kaisar Minta Transisi Kendaraan Listrik Beri Manfaat Ekonomi Rakyat

Lebih lanjut, Kaisar mengingatkan bahwa pertumbuhan industri kendaraan listrik harus berjalan seiring dengan kesiapan layanan purnajual. Keterbatasan suku cadang dan jaringan perbaikan tidak hanya menyulitkan konsumen, tetapi juga menunjukkan adanya ruang pengembangan usaha yang dapat dimanfaatkan pelaku industri nasional.

Ia menilai pemerintah perlu memastikan pembangunan ekosistem kendaraan listrik mencakup seluruh rantai kegiatan ekonomi, mulai dari produksi, distribusi, pemasaran, hingga perawatan dan perbaikan.

Kaisar juga menyoroti sikap sejumlah perusahaan asuransi yang masih berhati-hati memberikan perlindungan terhadap mobil listrik. Menurutnya, keterbatasan data klaim, mahalnya suku cadang, dan ketergantungan komponen impor menjadi tantangan yang harus dijawab melalui penguatan industri nasional.

Karena itu, ia meminta pemerintah tidak hanya mendorong masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik melalui berbagai insentif, tetapi juga memastikan infrastruktur industri pendukung berkembang secara seimbang.

Kaisar berharap pengembangan kendaraan listrik dapat menjadi penggerak industrialisasi sekaligus membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat. Keberhasilan transisi tersebut, menurutnya, harus tercermin dari meningkatnya kapasitas industri lokal, bertambahnya lapangan pekerjaan, tumbuhnya UMKM, serta tersedianya tenaga kerja terampil.

Dengan demikian, transformasi menuju kendaraan listrik tidak hanya menjadi perubahan teknologi transportasi, tetapi juga menjadi kesempatan memperkuat kemandirian industri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (red)