JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKB, Elpisina, mendesak PT Pertamina membuka secara transparan penyebab kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Menurutnya, krisis distribusi energi tersebut telah melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat dan tidak boleh terus dibiarkan.

Kelangkaan BBM terjadi di sejumlah daerah, seperti Kota Medan, Deli Serdang, Binjai, dan Langkat. Antrean panjang kendaraan di SPBU akibat terbatasnya pasokan Biosolar, Pertalite, hingga Pertamax disebut telah berlangsung selama beberapa hari.

“Kami meminta Pertamina segera bertindak cepat mengatasi kelangkaan BBM. Kondisi ini sudah berlangsung terlalu lama dan tidak boleh terus dibiarkan. Pertamina harus memastikan pasokan dan distribusi BBM kembali normal tanpa kendala sehingga masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa,” ujar Elpisina di Jakarta, Jumat (17/7/2026).

Menurut legislator PKB itu, masyarakat berhak memperoleh penjelasan mengenai penyebab utama kelangkaan BBM, apakah dipicu gangguan distribusi, persoalan pasokan, kendala infrastruktur, atau faktor lainnya.

Ia menilai keterbukaan informasi menjadi bagian dari tanggung jawab Pertamina sebagai perusahaan negara yang mengelola distribusi energi nasional.

“Pertamina perlu menjelaskan secara terbuka apa yang menjadi akar persoalan, apakah disebabkan gangguan distribusi, kendala pasokan, persoalan infrastruktur, maupun faktor lainnya. Penjelasan yang transparan merupakan bentuk akuntabilitas kepada masyarakat,” tegasnya.

Elpisina mengingatkan bahwa ketidakjelasan informasi hanya akan memicu spekulasi di masyarakat, termasuk aksi panic buying yang dapat memperparah kondisi di lapangan.

Selain meminta normalisasi distribusi, Komisi XII DPR RI juga mendorong pemerintah menjadikan persoalan di Sumatera Utara sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM nasional.

Menurutnya, pelayanan energi merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi daerah.

Ia mengatakan dampak kelangkaan BBM tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga pengemudi angkutan umum, pelaku UMKM, sektor pertanian, hingga aktivitas logistik yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar.

“Kelangkaan BBM tidak boleh dianggap sebagai persoalan yang biasa. Ini menyangkut hajat hidup masyarakat, stabilitas ekonomi daerah, dan kepercayaan publik terhadap pelayanan energi nasional,” pungkas Elpisina (red)