JAKARTA, BERITA SENAYAN – Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengungkap temuan mengejutkan terkait menguatnya narasi “Reformasi Jilid 2” di media sosial. Berdasarkan pemantauan selama periode 1–9 Juni 2026, isu tersebut bukan lagi sekadar perbincangan sporadis, melainkan telah berkembang menjadi gelombang keresahan publik yang terorganisasi secara digital.
Dalam analisis yang dirilis Drone Emprit, tercatat sebanyak 19.086 percakapan (mentions) dengan total 17,7 juta interaksi di berbagai platform media sosial dan media online. Angka tersebut menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu ekonomi, politik, dan demokrasi yang kini saling terhubung dalam satu narasi besar.
“Data Drone Emprit menunjukkan bahwa wacana Reformasi Jilid 2 bukan sekadar tren sesaat atau provokasi segelintir kelompok. Ini adalah manifestasi digital dari akumulasi kekecewaan yang sangat luas dan dalam, yang dipicu oleh tekanan ekonomi riil yang dirasakan masyarakat sehari-hari,” ujar Ismail Fahmi dalam analisisnya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Ismail, platform X (Twitter) menjadi pusat utama percakapan dengan lebih dari 16 ribu mentions dan lebih dari 10 juta interaksi. Sementara TikTok menjadi medium paling efektif dalam memperluas jangkauan isu, dengan lebih dari 6,4 juta interaksi hanya dari ratusan unggahan.
Drone Emprit juga menemukan bahwa sentimen negatif mendominasi percakapan publik di media sosial. Sebanyak 80,4 persen percakapan bernada negatif, sementara sentimen positif hanya berada di angka 11 persen.
Menariknya, analisis emosi menunjukkan bahwa ketakutan (fear) menjadi emosi paling dominan dibandingkan kemarahan. Ketakutan terhadap memburuknya kondisi ekonomi, pelemahan rupiah, anjloknya IHSG, meningkatnya PHK, hingga kekhawatiran terhadap masa depan demokrasi menjadi faktor utama yang mendorong percakapan publik.
“Publik tidak hanya marah, tetapi juga takut. Takut daya beli terus melemah, takut ekonomi semakin memburuk, dan takut demokrasi mengalami kemunduran. Kombinasi fear dan anticipation ini merupakan kondisi psikologis kolektif yang sangat mudah berkembang menjadi gerakan yang lebih besar,” jelasnya.
Dalam pemetaan jaringan percakapan, Drone Emprit menemukan empat kelompok utama yang aktif membentuk narasi Reformasi Jilid 2, yakni kelompok publik kritis, kelompok pendukung pemerintah, kelompok publik umum, serta media massa.
Ismail menilai isu ekonomi menjadi faktor paling dominan yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat. Pelemahan nilai tukar rupiah, penurunan IHSG, gelombang PHK, hingga berbagai polemik kebijakan pemerintah menjadi bahan bakar utama yang memperkuat sentimen publik di ruang digital.
“Yang pasti, mengabaikan 17,7 juta interaksi dan sentimen negatif yang mencapai lebih dari 80 persen bukanlah pilihan yang bijak bagi siapa pun yang bertanggung jawab atas stabilitas dan kesejahteraan bangsa ini,” tegas Ismail Fahmi.
Temuan Drone Emprit tersebut menunjukkan bahwa media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai ruang diskusi, tetapi juga menjadi arena konsolidasi opini publik yang mampu membentuk arah percakapan politik nasional dalam waktu singkat (red)

Berita terkait