JAKARTA, BERITA SENAYAN – Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka, Maman Imanul Haq, mengingatkan para pengurus Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak menjadikan organisasi sebagai sarana mencari keuntungan pribadi.
Menurut Maman, memasuki abad kedua NU membutuhkan perubahan orientasi dari kepentingan pribadi menuju pengabdian dan kemaslahatan umat. Ia menilai pesan para kiai sepuh mengenai bisyarah dan basyirah perlu menjadi refleksi bagi seluruh pengurus NU.
“Saya hadir di beberapa pertemuan dengan kiai sepuh. Kalimat beliau-beliau itu sangat kuat: di NU jangan mencari bisyarah, tetapi harus mencari basyirah,” ujar Maman.
Maman menjelaskan, basyirah berkaitan dengan kejernihan hati dan pandangan dalam menjalankan amanah. Nilai tersebut, menurutnya, harus menjadi landasan pengurus ketika mengemban tanggung jawab di dalam organisasi.
Ia menilai jabatan di NU seharusnya dipandang sebagai amanah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan atau kepentingan pribadi.
“Siapa pun orang yang mencoba menjadikan NU sebagai alat kepentingan pribadinya, sebenarnya dia akan hancur dengan sendirinya,” tegasnya.
Spirit Pendiri NU Jadi Pengingat
Maman mengaitkan persoalan tersebut dengan sejarah perjuangan para pendiri NU, khususnya KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab.
Menurut dia, NU pada awal berdirinya dibangun melalui pengorbanan para ulama dan masyarakat. Para pendiri tidak membangun organisasi dengan orientasi keuntungan, melainkan dengan semangat perjuangan dan pengabdian.
Mbah Wahab, kata Maman, bahkan berkeliling ke berbagai daerah untuk membangun jaringan NU ketika teknologi komunikasi belum berkembang seperti saat ini.
“Beliau datang ke Sumatera, datang ke Jawa Barat, datang ke mana-mana. Akhirnya NU menjadi organisasi yang menasional,” ujarnya.
Bagi Maman, semangat tersebut menjadi penting untuk kembali dihidupkan ketika NU memasuki abad kedua.
Ia mengajak pengurus NU melakukan refleksi sederhana mengenai motivasi ketika menerima amanah organisasi.
“Ketika kita menjadi pengurus NU, pertanyaannya adalah, apakah spirit kita spirit Mbah Wahab atau bukan?” katanya.
Jangan Bergeser Jadi Kepentingan Pribadi
Maman mengatakan tradisi pengorbanan masih dapat ditemukan di lingkungan pesantren. Ia mencontohkan berbagai bentuk kontribusi masyarakat dan keluarga pesantren dalam mendukung kegiatan NU, termasuk penyelenggaraan kegiatan besar seperti Muktamar.
Kontribusi tersebut tidak selalu berupa dana dalam jumlah besar. Sebagian masyarakat memberikan tenaga, makanan, perlengkapan, hingga fasilitas untuk menjamu para tamu.
Menurutnya, semangat tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki akar kuat dalam tradisi gotong royong dan pengabdian.
“Perjuangan Mbah Wahab untuk NU itu tidak hanya secara fisik, tetapi juga dengan harta,” katanya.
Karena itu, Maman mengingatkan agar tradisi tersebut tidak berubah menjadi budaya mencari keuntungan dari organisasi.
Ia menilai ketika tata kelola organisasi tidak dijalankan secara transparan dan amanah, dampaknya dapat meluas terhadap keberlangsungan organisasi maupun badan otonom di bawahnya.
Momentum Abad Kedua
Maman berharap momentum memasuki abad kedua menjadi kesempatan bagi NU untuk memperkuat kembali nilai dasar yang diwariskan para pendirinya.
Menurutnya, NU harus tetap menjadi organisasi yang mengedepankan keikhlasan, pengorbanan, kemandirian dan pengabdian.
“Memulai NU abad kedua harus dengan spirit para pendiri. Kita harus kembali kepada keteladanan Mbah Wahab dan para pendiri lainnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, NU tidak semestinya menjadi ruang untuk mengejar kepentingan personal.
“NU bukan tempat untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi tempat untuk mengabdi dan memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi umat dan bangsa,” pungkas Maman (red)

Berita terkait