JAKARTA, BERITA SENAYAN – Nama mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj semakin menguat dalam bursa calon Rais Aam PBNU. Tokoh senior NU KH Adnan Anwar menilai Said Aqil memiliki pengalaman panjang, kemampuan konsolidasi, serta rekam jejak dalam menyelesaikan berbagai persoalan organisasi.

Menurut Adnan, pengalamannya berinteraksi langsung dengan Said Aqil selama memimpin PBNU menjadi salah satu dasar penilaiannya terhadap sosok tersebut. Ia menyebut dua periode kepemimpinan Said Aqil relatif mampu menjaga stabilitas organisasi.

“Saya mengikuti kabinetnya Pak Said. Saya juga lama berinteraksi dengan beliau. Setahu saya, dalam dua periode (Ketua Umum PBNU), Pak Said itu relatif aman. Nggak ada masalah,” terang Adnan di Jakarta, Selasa (24/08).

Adnan mengatakan berbagai persoalan internal NU, termasuk perbedaan pandangan dalam masalah furu’ atau cabang, dapat diselesaikan tanpa berkembang menjadi konflik besar.

Menurutnya, persoalan di dalam organisasi tentu tetap ada. Namun, pada masa kepemimpinan Said Aqil, persoalan tersebut tidak sampai memicu guncangan yang berpotensi menyebabkan perpecahan internal.

Said Aqil Dinilai Punya Kemampuan Konsolidasi

Adnan menilai kemampuan konsolidasi menjadi salah satu keunggulan Said Aqil. Selain memiliki pengalaman panjang dalam organisasi, Said Aqil juga dinilai memiliki wawasan mengenai persoalan geopolitik yang relevan dengan perkembangan NU sebagai organisasi keagamaan sekaligus kekuatan sosial di Indonesia.

“Artinya Pak Said itu figur yang konsolidator. Sosok yang pengalaman, kemudian beliau juga berinteraksi dengan masalah geopolitik. Itu sangat penting,” bebernya.

Ia juga menilai Said Aqil merupakan figur yang tidak sekadar mengandalkan mekanisme organisasi ketika menghadapi persoalan. Menurut Adnan, Said Aqil dikenal mau turun langsung untuk mencari jalan keluar dari persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Salah satu contoh yang disebutnya adalah ketika muncul polemik terkait nasab Ba’lawi. Saat itu, Said Aqil disebut berupaya memberikan penjelasan dan ikut menyelesaikan persoalan sehingga polemik dapat mereda.

Bandingkan Said Aqil dengan Ma’ruf Amin dan Miftachul Akhyar

Selain Said Aqil Siroj, sejumlah nama lain juga disebut-sebut berpotensi menjadi calon Rais Aam PBNU, di antaranya KH Ma’ruf Amin dan KH Miftachul Akhyar.

Menanggapi nama tersebut, Adnan menilai Ma’ruf Amin juga memiliki pengalaman yang kuat. Namun, ia memberikan catatan berbeda terhadap perjalanan kepemimpinan Miftachul Akhyar.

Adnan menyinggung konflik dan aksi saling pemecatan yang terjadi antara Miftachul Akhyar dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

Menurutnya, tindakan pemecatan terhadap pimpinan tanfidziyah berpotensi menimbulkan persoalan serius dalam organisasi karena dapat memunculkan kesan bahwa NU dipersonifikasikan pada kepentingan individu.

“Kalau memecat, kebahayanya kan personifikasi individu. Seolah-olah NU itu menjadi urusan individu. Itu implikasi bahaya dari seseorang yang memecat ketua tanfidziyah. Itu kan belum pernah terjadi ya,” tegasnya.

Adnan Soroti Tradisi Rekonsiliasi di NU

Adnan menjelaskan bahwa dalam sejarah NU, konflik internal bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Namun, menurutnya, tradisi penyelesaian persoalan melalui rekonsiliasi harus tetap dijaga.

Ia menyebut pernah terdapat pengurus yang diberhentikan dari jabatannya. Akan tetapi, persoalan tersebut kemudian diselesaikan melalui rekonsiliasi sehingga hubungan organisasi kembali membaik.

“Peristiwa pecat-memecat itu jarang terjadi. Di sepanjang kami di PBNU dulu ya, tidak ada pecat-memecat,” tegas Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) itu.

Bagi Adnan, karakter kepemimpinan Rais Aam menjadi faktor penting dalam menjaga marwah dan soliditas NU. Figur yang memiliki pengalaman, kemampuan konsolidasi, kedalaman keilmuan, serta kemampuan meredam konflik dinilai semakin dibutuhkan dalam menghadapi dinamika organisasi ke depan (red)