JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Sudjatmiko, mendesak Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) segera membenahi infrastruktur taxiway Bandara Halim Perdanakusuma. Ia menilai perbaikan tersebut berpotensi memangkas waktu tunggu pesawat hingga 30 menit sekaligus meningkatkan efisiensi operasional penerbangan.

Desakan itu disampaikan Sudjatmiko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI bersama jajaran Eselon I Ditjen Perhubungan Udara di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Menurut Sudjatmiko, keberadaan crossing taxiway menuju runway masih menjadi salah satu penyebab terhambatnya proses lepas landas dan pendaratan pesawat di Bandara Halim. Kondisi tersebut membuat pesawat harus menunggu lebih lama sehingga konsumsi avtur meningkat dan biaya operasional maskapai ikut membengkak.

“Persoalan ini perlu segera mendapat perhatian. Penataan taxiway bukan hanya untuk memperlancar arus pesawat, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional dan menekan biaya penerbangan,” ujar Sudjatmiko.

Ia menegaskan, efisiensi operasional di sektor transportasi udara harus menjadi perhatian serius pemerintah mengingat tingginya mobilitas masyarakat yang membutuhkan layanan penerbangan yang aman, cepat, dan tepat waktu.

Sudjatmiko menjelaskan bahwa pembangunan maupun perubahan infrastruktur di kawasan sisi udara Bandara Halim merupakan kewenangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama operator bandara. Karena itu, ia meminta Kementerian Perhubungan segera menyusun langkah konkret melalui kajian teknis, penyusunan desain, hingga pengalokasian anggaran.

Dalam RDP tersebut juga mengemuka bahwa usulan penataan maupun penambahan taxiway ditargetkan dapat masuk dalam perencanaan anggaran tahun 2027. Saat ini, rincian teknis, kebutuhan anggaran, dan mekanisme pembiayaan masih dalam tahap penyusunan.

Berdasarkan paparan dalam rapat, penataan infrastruktur taxiway diperkirakan mampu mengurangi waktu tunggu operasional pesawat sekitar 20 hingga 30 menit. Perbaikan ini diyakini akan membuat proses take-off dan landing lebih efisien sekaligus menekan konsumsi bahan bakar pesawat.

Sudjatmiko juga menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga, termasuk dengan operator bandara, TNI Angkatan Udara, dan kementerian terkait agar rencana pembangunan dapat direalisasikan sesuai target.

“Sinergi antarlembaga menjadi faktor penting agar proses perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan dapat berjalan sesuai target,” katanya.

Ia berharap Kementerian Perhubungan segera menindaklanjuti hasil RDP dengan menyusun studi kelayakan dan dokumen perencanaan secara komprehensif. Menurutnya, pembenahan taxiway Bandara Halim tidak hanya akan meningkatkan efisiensi operasional penerbangan, tetapi juga memperkuat aspek keselamatan serta menghadirkan pelayanan transportasi udara yang lebih baik bagi masyarakat (red)