JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Oleh Soleh, menegaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak kehilangan adab, etika, dan moral dalam menghadapi derasnya transformasi digital.

Hal itu disampaikan Oleh Soleh dalam diskusi publik bertajuk “Ruang Temu AI dan Agama: Menyongsong Masa Depan Kehidupan Beragama di Era Artificial Intelligence (AI)” di Kantor DPP PKB, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

“Teknologi tidak bisa dilawan. Yang harus kita lakukan adalah menerima dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu adab dan perilaku yang baik. Nilai-nilai itu harus tetap menjadi fondasi dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di ruang digital,” ujar Oleh Soleh.

Menurutnya, kemajuan teknologi membawa tantangan baru karena secara perlahan dapat mengaburkan batas-batas etika. Konten yang semula dianggap menghina atau tidak pantas, kata dia, kini justru mudah diterima publik karena viral dan menghasilkan keuntungan ekonomi.

Oleh Soleh mencontohkan fenomena lagu My Little Bolu Ketan (MBG) yang menurutnya berawal dari bentuk sindiran atau ejekan, tetapi kemudian berubah menjadi hiburan yang mendatangkan popularitas sekaligus keuntungan finansial.

“Fenomena seperti ini menunjukkan bagaimana sesuatu yang sebenarnya merupakan ejekan dapat berubah menjadi hiburan yang menghasilkan ketenaran dan uang. Lama-kelamaan masyarakat terbiasa menerima pelanggaran etika sebagai sesuatu yang biasa,” katanya.

Ia menilai algoritma media sosial lebih mengutamakan konten yang mampu menarik perhatian dan meningkatkan interaksi, tanpa mempertimbangkan aspek etika maupun adab. Kondisi tersebut membuat platform digital memperoleh keuntungan besar dari konten-konten yang memicu kontroversi.

Meski demikian, Oleh Soleh meminta masyarakat tidak bereaksi secara berlebihan terhadap perkembangan teknologi.

“Kuncinya jangan mudah baper. Kalau kita terlalu emosional menghadapi perkembangan teknologi, kita akan sulit beradaptasi. Yang penting adalah bijak memanfaatkannya,” ujarnya.

Selain menyoroti aspek etika, legislator PKB itu juga mengingatkan pentingnya pemerataan manfaat ekonomi dari perkembangan AI. Menurutnya, jangan sampai keuntungan ekonomi digital hanya dinikmati perusahaan besar dan pemilik modal.

“Kami berharap pemerintah dapat memastikan distribusi manfaat ekonomi dari AI berlangsung lebih adil. Jangan sampai hanya segelintir pemodal besar yang menikmati kue ekonomi digital, sementara masyarakat luas hanya menjadi pengguna,” tegasnya.

Oleh Soleh menambahkan, PKB siap berkolaborasi dengan pemerintah, kalangan akademisi, pelaku industri, dan masyarakat untuk membangun tata kelola AI yang inklusif, beretika, serta mampu memberikan manfaat ekonomi secara merata bagi seluruh masyarakat Indonesia (red)