JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKB, Mafirion, menyoroti tingginya kerentanan perempuan dalam konflik bersenjata di Papua menyusul tewasnya Melkiana Duwita, seorang ibu hamil delapan bulan yang menjadi korban penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Ia menegaskan negara harus memperkuat perlindungan terhadap warga sipil, terutama perempuan dan anak.
Menurut Mafirion, perempuan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak konflik karena tidak hanya menghadapi ancaman kehilangan nyawa, tetapi juga berisiko kehilangan akses terhadap layanan kesehatan, mengalami trauma berkepanjangan, hingga kehilangan rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Negara harus hadir bukan hanya ketika konflik terjadi, tetapi juga memastikan setiap warga sipil dapat hidup dengan aman, bermartabat, dan terbebas dari ancaman kekerasan. Perlindungan hak asasi manusia harus menjadi prinsip utama dalam setiap kebijakan penanganan konflik di Papua,” ujar Mafirion di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Ia meminta pemerintah segera memperkuat perlindungan terhadap masyarakat sipil dengan meningkatkan pengamanan di kawasan permukiman, memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, menjamin distribusi bantuan kemanusiaan, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat untuk beraktivitas.
Mafirion juga mendesak pemerintah mengusut tuntas insiden penembakan yang menewaskan Melkiana Duwita beserta bayi yang dikandungnya. Menurutnya, investigasi harus dilakukan secara independen, transparan, dan akuntabel agar keluarga korban memperoleh keadilan.
“Kami sangat prihatin atas kematian seorang ibu hamil beserta bayi yang dikandungnya akibat konflik bersenjata. Tragedi ini menjadi cermin bahwa negara belum mampu memberikan perlindungan maksimal kepada warga sipil, khususnya perempuan dan anak, yang berada di wilayah konflik,” tegasnya.
Peristiwa itu terjadi di rumah orang tua korban di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Korban yang tengah mengandung delapan bulan meninggal dunia setelah sebuah peluru menembus dinding rumah dan mengenai kepalanya. Sementara itu, Komando Operasi Habema membantah keterlibatan anggotanya dan menyatakan tembakan berasal dari kelompok bersenjata.
Mafirion menilai konflik berkepanjangan di Papua telah membawa dampak kemanusiaan yang serius bagi masyarakat sipil. Selain memakan korban jiwa, konflik juga menghambat akses pendidikan, layanan kesehatan, serta mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, ia mendorong penyelesaian konflik dilakukan melalui pendekatan yang mengedepankan dialog, penegakan hukum, perlindungan hak asasi manusia, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Berita terkait