JAKARTA, BERITA SENAYAN – Hasil riset media sosial yang dirilis Sintesa Strategi Indonesia (SSI) menempatkan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, sebagai salah satu tokoh kabinet dengan performa citra digital paling positif. Temuan tersebut dinilai mencerminkan kuatnya penerimaan publik terhadap Bahlil di ruang digital dibandingkan sejumlah figur lain yang banyak diperbincangkan.

Berdasarkan pemantauan SSI selama periode 5 Juni hingga 2 Juli 2026, percakapan dengan kata kunci “Prabowo” menghasilkan sekitar 231 juta terpaan konten. Dari jumlah itu, sekitar 33 juta terpaan secara khusus mengaitkan Presiden Prabowo Subianto dengan para menteri maupun wakil presiden dalam kabinetnya.

Dalam kategori tokoh yang paling banyak disorot, Bahlil Lahadalia mencatat 8.213.780 terpaan konten, tertinggi kedua setelah Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh 8.617.236 terpaan.

Namun dari sisi sentimen, Bahlil justru mencatatkan hasil yang lebih positif. Sebanyak 40,1 persen percakapan mengenai dirinya bernada positif, hanya 5,9 persen yang bernada negatif, sementara sisanya bersifat netral.

SSI juga mengelompokkan lima tokoh dengan eksposur tertinggi dalam kategori “Tier 1 Dominan”, yakni figur yang memperoleh lebih dari satu juta paparan konten terkait Presiden Prabowo. Selain Bahlil dan Gibran, kategori tersebut juga diisi Nanik/Deyang, Teddy Indra Wijaya, dan Purbaya Yudhi Sadewa.

Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Sorong, Dr. Bustamin Wahid, menilai capaian Bahlil menjadi temuan menarik karena mampu memadukan tingkat eksposur yang tinggi dengan sentimen negatif yang relatif paling rendah.

“Sebagai pengamat, saya melihat data ini menunjukkan bahwa figur seperti Bahlil Lahadalia relatif jarang menjadi sasaran sentimen negatif dibandingkan tokoh lain yang sama-sama banyak disorot publik. Ini bisa dibaca sebagai indikasi soliditas dukungan kader partai koalisi terhadap pemerintahan, meskipun tentu perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah pola ini konsisten dalam jangka panjang,” ujar Bustamin, Minggu (5/7/2026).

Menurut Bustamin, dinamika percakapan di media sosial dapat menjadi indikator awal untuk membaca persepsi publik terhadap para pembantu presiden. Namun, ia mengingatkan bahwa citra positif di ruang digital tetap harus dibuktikan melalui kinerja nyata.

“Data digital seperti ini bisa menjadi indikator awal, tapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pembantu presiden. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana sentimen positif ini dijaga konsistensinya lewat kinerja nyata di lapangan, bukan sekadar aktivitas di media sosial,” katanya.

Ia juga mendorong lembaga riset terus menjaga transparansi metodologi agar hasil pemantauan dapat dipahami publik secara komprehensif.

Secara keseluruhan, SSI mencatat sentimen publik terhadap Presiden Prabowo Subianto selama periode pengamatan terdiri atas 41,5 persen positif, 44,7 persen netral, dan 13,8 persen negatif. Temuan tersebut dinilai menjadi salah satu potret dinamika komunikasi politik di ruang digital yang terus berkembang menjelang tahapan politik berikutnya (red)