JAKARTA, BERITA SENAYAN – Direktur Akademi Partai Golkar Hajriyanto Y. Thohari menilai umat Islam perlu berani mengakui ketertinggalan peradaban agar mampu membangun kemajuan di era modern. Pernyataan itu disampaikan dalam khutbah Iduladha di Masjid Syajarotun Thoyyibah, Sekretariat DPP Partai Golkar, Jakarta, Rabu (27/5/2026).

Menurut Hajriyanto, kesadaran bahwa dunia Islam masih tertinggal merupakan langkah awal yang penting untuk membangun kebangkitan umat di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ilmu pengetahuan, hingga peradaban modern.

“Kesadaran bahwa dirinya merupakan bangsa atau umat yang tertinggal adalah kesadaran yang sangat penting. Karena itu akan memacu kita untuk mengejar ketertinggalan,” ujar Hajriyanto.

Ia menjelaskan, menanamkan kesadaran kolektif terhadap kondisi tersebut bukan perkara mudah. Hajriyanto membandingkan situasi itu dengan perjuangan tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia yang dahulu harus membangun kesadaran rakyat bahwa bangsa Indonesia hidup dalam penjajahan.

“Bahkan untuk menanamkan kesadaran bahwa dirinya merupakan bangsa yang terjajah saja dahulu merupakan pekerjaan yang sangat berat,” katanya.

Dalam khutbahnya, Hajriyanto menegaskan Iduladha tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum refleksi untuk memperkuat nilai pengorbanan, pengabdian, dan semangat membangun peradaban umat.

Ia juga mengulas keteladanan Nabi Ibrahim AS sebagai simbol tauhid dan pengorbanan yang menjadi rujukan agama-agama besar dunia.

Menurutnya, Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai bapak monoteisme yang meletakkan fondasi keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain membahas kondisi dunia Islam, Hajriyanto turut menyinggung isu global terkait Abraham Accord atau Kesepakatan Ibrahim yang digagas Amerika Serikat bersama sejumlah negara Timur Tengah.

Ia menilai Indonesia sebaiknya tetap konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan tidak terburu-buru bergabung dalam kesepakatan tersebut sebelum hak rakyat Palestina benar-benar terpenuhi.

“Indonesia seharusnya tidak bersedia menandatangani Abraham Accord sampai berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” tegasnya (red)