SURABAYA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, dr. Adela Kanasya Adies, M.Sc., mendorong perguruan tinggi bertransformasi agar tidak hanya menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga melahirkan generasi muda yang mampu memecahkan persoalan nyata di masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Adela saat menjadi pembicara dalam kegiatan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Senin (19/10/2026). Ia menyoroti perubahan dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomatisasi, ekonomi digital, dan ekonomi hijau yang menuntut perguruan tinggi semakin adaptif.

“Dunia yang akan dihadapi mahasiswa hari ini berubah jauh lebih cepat daripada kurikulum yang kita ajarkan kepada mereka. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak anak Indonesia yang bisa kuliah, tetapi setelah mereka kuliah, apakah mereka siap menghadapi dunia yang baru?” ujar Adela.

Menurut legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur I yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo tersebut, ijazah tetap penting, tetapi harus diimbangi keterampilan praktis, pengalaman, jejaring, kemampuan berpikir kritis, serta karakter yang kuat. Pendidikan tinggi perlu memastikan mahasiswa memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri.

Adela juga mengingatkan bahwa perubahan teknologi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai ancaman. Generasi muda perlu menguasai teknologi sekaligus mempertahankan integritas, empati, etika, dan kemampuan berpikir mandiri.

Adela Kanasya Adies Soroti AI dan Kolaborasi Kampus-Industri

Adela menilai kecerdasan buatan dapat menjadi peluang bagi mahasiswa untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan inovasi apabila digunakan secara tepat. Namun, penguasaan teknologi harus berjalan bersama kemampuan menilai informasi, mengambil keputusan, dan memahami dampak pekerjaan terhadap manusia.

“AI tidak akan menggantikan semua manusia. Tetapi manusia yang mampu menggunakan AI dengan baik akan memiliki keunggulan dibandingkan manusia yang tidak mau belajar menggunakannya,” tegasnya.

Selain penguasaan teknologi, Adela menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat. Menurutnya, masing-masing pihak memiliki sumber daya dan kebutuhan yang dapat dipertemukan untuk menghasilkan solusi atas persoalan nyata.

“Kampus punya knowledge, industri punya real problem, pemerintah punya policy, dan masyarakat punya kebutuhan. Kalau empat hal ini bertemu, di situlah inovasi terjadi,” katanya.

Ia menilai Surabaya memiliki potensi melalui ekosistem pendidikannya, sementara Sidoarjo mempunyai basis industri dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dapat menjadi ruang penerapan hasil penelitian kampus.

Karena itu, Adela mendorong pengembangan riset kolaboratif, program magang berbasis persoalan nyata, inkubasi usaha rintisan mahasiswa, kemitraan dengan UMKM, hingga hilirisasi penelitian. Ia berharap hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk, layanan, atau inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Adela Dorong Mahasiswa Jadi Pencipta Peluang Menuju Indonesia Emas 2045

Adela juga mengajak mahasiswa mengubah pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi generasi yang mampu menciptakan peluang. Menurutnya, Indonesia membutuhkan pencari kerja sekaligus wirausahawan, peneliti, inovator, dan teknopreneur yang dapat berkontribusi terhadap pembangunan nasional.

Perguruan tinggi, kata Adela, memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem yang mendukung lahirnya generasi tersebut. Kurikulum perlu terus menyesuaikan perkembangan zaman, sementara pengalaman praktis dan kolaborasi dengan industri perlu diperkuat agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya.

Ia menegaskan, persiapan menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai sejak sekarang melalui proses pembelajaran, penelitian, inovasi mahasiswa, serta kebijakan pendidikan yang menjawab tantangan masa depan.

“Untuk perguruan tinggi, jangan hanya mencetak lulusan. Cetaklah pemecah masalah. Dan untuk teman-teman mahasiswa, jangan hanya menunggu masa depan. Ciptakan masa depan itu mulai hari ini,” pungkas Adela.

Melalui penguatan kompetensi, pemanfaatan teknologi, serta kemitraan antara kampus dan industri, Adela berharap pendidikan tinggi Indonesia mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga berperan aktif menciptakan solusi, membuka lapangan kerja, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat (red)