JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB Mahdalena mendesak pemerintah memberikan pendampingan psikologis dan trauma healing secara menyeluruh kepada korban selamat KM Virgo Transport 8.
Menurut Mahdalena, penanganan korban pascamusibah tidak boleh berhenti pada pemulihan kondisi fisik. Trauma emosional yang dialami para penumpang juga perlu mendapatkan perhatian agar mereka dapat kembali merasa aman setelah melalui pengalaman mencekam di tengah laut.
“Kami berduka atas musibah yang menimpa para korban. Jangan sampai setelah berhasil diselamatkan, mereka justru harus menghadapi traumanya sendirian tanpa pendampingan psikologis untuk memulihkan rasa aman,” ujar Mahdalena di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Mahdalena menyoroti kondisi yang dialami para penumpang ketika KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan sekitar pukul 01.00 WIB.
Saat kejadian, sebagian besar penumpang disebut sedang terlelap. Situasi malam yang gelap dan kepanikan ketika kapal mulai miring dinilai dapat meninggalkan dampak psikologis bagi korban selamat.
“Bayangkan mereka sedang tidur, kemudian tiba-tiba kapal dalam kondisi miring pada pukul satu dini hari. Dalam keadaan gelap dan panik tanpa waktu bersiap, pengalaman itu tentu sangat traumatis bagi para korban,” tuturnya.
Menurut Mahdalena, pengalaman menghadapi situasi darurat secara tiba-tiba dapat membuat korban membutuhkan waktu dan pendampingan untuk kembali menjalani aktivitas secara normal.
Korban Bertahan Berjam-jam di Tengah Laut
Mahdalena juga menyoroti pengalaman sejumlah korban yang harus bertahan di tengah laut sebelum mendapatkan pertolongan. Ia mencontohkan seorang korban berusia 19 tahun yang disebut harus bertahan seorang diri selama sekitar 10 jam hingga akhirnya dievakuasi oleh tim SAR.
“Coba bayangkan anak muda 19 tahun harus bertahan seorang diri selama 10 jam di tengah laut lepas. Takut, panik, dan merasa sendirian di tengah kegelapan—pengalaman traumatik seperti itu tidak selesai begitu saja hanya karena sudah diselamatkan,” tegasnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses penyelamatan secara fisik hanyalah tahap awal. Korban juga perlu mendapatkan dukungan untuk menghadapi dampak emosional setelah musibah.
Politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut menilai kondisi psikologis setiap korban tidak dapat disamaratakan. Sebagian korban mungkin mengalami ketakutan karena harus terombang-ambing di laut selama berjam-jam. Sementara korban lainnya harus menghadapi kehilangan atau terpisah dari anggota keluarga ketika kapal mengalami kecelakaan.
“Setiap korban membawa cerita dan luka masing-masing, mulai dari yang kehilangan orang tercinta hingga berjam-jam terombang-ambing di laut. Mereka membutuhkan ruang untuk didengarkan dan didampingi ahli hingga benar-benar pulih,” kata Mahdalena.
Karena itu, ia meminta proses pemulihan psikologis dilakukan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing korban.
Kemensos Diminta Turunkan Tim Psikolog
Mahdalena meminta Kementerian Sosial bersama tenaga psikolog dan pekerja sosial segera memberikan pendampingan kepada korban selamat yang berada di lokasi penampungan.
Menurutnya, layanan tersebut perlu dilakukan sedini mungkin untuk mengidentifikasi korban yang membutuhkan penanganan psikologis lebih lanjut.
Pendampingan juga dinilai tidak hanya diperlukan bagi penumpang yang selamat, tetapi juga keluarga korban yang masih menunggu kepastian mengenai anggota keluarganya.
Kondisi ketidakpastian tersebut, kata Mahdalena, dapat menambah beban emosional keluarga yang terdampak musibah. Mahdalena meminta pemerintah memperluas dukungan psikososial kepada keluarga penumpang yang belum ditemukan.
Menurutnya, keluarga membutuhkan informasi yang jelas sekaligus ruang pendampingan selama proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung.
“Pemerintah melalui lembaga terkait dan tim medis harus segera mendampingi korban selamat serta keluarga penumpang yang belum ditemukan. Negara harus hadir memberikan ketenangan dan pendampingan di masa-masa sulit ini,” pungkasnya.
Ia berharap penanganan pascamusibah KM Virgo Transport 8 dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kebutuhan medis, pemulihan psikologis, hingga pendampingan sosial bagi korban dan keluarga.
Bagi Mahdalena, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari proses evakuasi korban, tetapi juga dari kemampuan pemerintah membantu para penyintas melewati dampak psikologis setelah musibah (red)

Berita terkait