JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Sudjatmiko, mendorong pemerintah segera membangun shelter khusus bagi pengemudi ojek online (ojol) di setiap kecamatan. Menurutnya, para pengemudi selama ini menjadi bagian penting sistem transportasi nasional, tetapi belum mendapatkan fasilitas yang layak untuk beristirahat maupun menunggu pesanan.

Usulan tersebut disampaikan Sudjatmiko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Senin (13/7/2026).

“Kendaraan online roda dua sudah menjadi kebutuhan nyata yang tidak bisa kita abaikan. Mereka adalah ujung tombak mobilitas masyarakat. Sayangnya, fasilitas bagi mereka masih sangat minim. Kita membutuhkan langkah konkret, bukan sekadar wacana,” kata Sudjatmiko.

Menurutnya, pembangunan shelter bukan sekadar menyediakan tempat istirahat bagi pengemudi, tetapi juga menjadi solusi untuk mengurangi parkir liar dan penumpukan kendaraan di trotoar maupun bahu jalan yang selama ini memicu kemacetan serta mengganggu ketertiban ruang publik.

Sudjatmiko mengungkapkan, hingga kini belum terdapat program maupun alokasi anggaran khusus dari pemerintah untuk pembangunan shelter bagi pengemudi transportasi online. Karena itu, ia meminta Kementerian Perhubungan mulai memasukkan program tersebut ke dalam agenda prioritas pembangunan sektor transportasi.

Sebagai tahap awal, ia mengusulkan pembangunan proyek percontohan dengan target minimal satu shelter di setiap kecamatan yang memiliki aktivitas ojek online tinggi. Penentuan lokasi, menurutnya, harus didasarkan pada data kepadatan pengemudi dan titik kumpul yang selama ini menjadi pusat aktivitas.

“Kita mulai dari yang realistis dan berdampak. Minimal satu shelter di setiap kecamatan sebagai proyek percontohan. Desainnya kita siapkan, kemudian dievaluasi. Jika terbukti efektif, program ini bisa diperluas ke daerah lain,” ujarnya.

Sudjatmiko juga mengapresiasi langkah sejumlah perusahaan aplikasi transportasi yang telah menyediakan fasilitas istirahat bagi mitra pengemudi. Namun, ia menilai jumlah fasilitas tersebut masih terbatas dan belum terintegrasi dengan kebijakan pemerintah maupun tata ruang perkotaan.

“Saya mengapresiasi langkah para aplikator. Namun jumlahnya masih sedikit dan belum merata. Ke depan perlu ada kolaborasi antara Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, pihak aplikator, dan komunitas pengemudi agar shelter yang dibangun memiliki standar yang baik, aman, nyaman, tersedia tempat pengisian daya telepon genggam, serta tidak mengganggu lalu lintas,” katanya.

Menanggapi usulan tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan menyatakan terbuka untuk mengkaji pembangunan fasilitas pendukung bagi transportasi online.

Sudjatmiko menegaskan akan terus mengawal usulan tersebut agar masuk dalam agenda prioritas Komisi V DPR RI dan dapat direalisasikan pemerintah.

“Hari ini kita sepakat bahwa persoalan ini harus segera mendapat perhatian. Jika terus ditunda, penumpukan kendaraan di trotoar maupun bahu jalan akan semakin sulit dikendalikan. Saya akan mengawal usulan ini hingga terealisasi demi kenyamanan para pengemudi sekaligus menciptakan transportasi perkotaan yang lebih tertib, aman, dan manusiawi,” pungkasnya.

Menurut Sudjatmiko, keberadaan shelter ojol akan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem transportasi berbasis aplikasi yang lebih tertata, sekaligus menghadirkan ruang publik yang aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi masyarakat (red)