JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi V DPR RI Erna Sari Dewi meminta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lebih cermat dalam menyusun rencana kerja dan anggaran. Menurutnya, kebutuhan peralatan strategis yang berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama.

Hal itu disampaikan Erna usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Basarnas dan BMKG di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Politikus Fraksi Partai NasDem tersebut menyoroti masih minimnya anggaran belanja modal Basarnas. Ia mengungkapkan sejumlah alat penunjang operasi penyelamatan yang sangat dibutuhkan justru belum mendapatkan alokasi anggaran, bahkan masih bernilai nol.

“Saya lihat dalam pemaparannya masih zero. Contoh seperti ada pengadaan kapal SAR untuk kelas 2 dan kelas 5, ini sangat penting sekali. Kemudian UAV (Unmanned Aerial Vehicle), peralatan drone, dan radar locator, tapi itu belum dianggarkan. Kita minta perhatian khusus bahwa peralatan-peralatan strategis ini yang wajib dianggarkan,” kata Erna.

Menurutnya, Basarnas sebagai garda terdepan dalam operasi pencarian dan penyelamatan tidak bisa dibebani tanggung jawab besar tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai.

“Bagaimana kemudian kita memberikan beban kepada Basarnas untuk melakukan dan menjaga keselamatan rakyat kalau tidak didukung dengan peralatan yang baik dan bagus?” tegasnya.

Selain menyoroti Basarnas, Erna juga meminta BMKG memaksimalkan anggaran untuk memperkuat mitigasi terhadap ancaman cuaca ekstrem dan fenomena El Nino yang dapat berdampak pada ketahanan pangan nasional.

Ia menekankan perlunya perhatian khusus terhadap wilayah rawan bencana seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Bengkulu yang berada di kawasan pesisir Samudera Hindia dan memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi.

“Anggaran itu harus fokus juga diberikan treatment khusus kepada wilayah atau daerah-daerah yang rawan bencana seperti Aceh, Sumatera Utara, kemudian Bengkulu, yang dalam satu tahun saja guncangan gempanya tahun 2025 sudah 627 kali dan itu berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Maka saya minta BMKG maupun Basarnas memberikan perhatian khusus,” ujarnya.

Erna berharap anggaran yang dialokasikan kepada Basarnas dan BMKG benar-benar difokuskan pada penguatan kapasitas kedua lembaga dalam melindungi masyarakat, sehingga respons terhadap bencana dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan efektif (red)