JAKARTA – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, optimistis lonjakan wisatawan nusantara selama masa libur sekolah akan menjadi berkah besar bagi pelaku UMKM, sektor kuliner, penginapan, hingga pedagang cenderamata di berbagai daerah.
Menurut perempuan yang akrab disapa Nunik itu, kekuatan utama pariwisata Indonesia justru berada pada wisatawan domestik yang jumlah perjalanannya mencapai miliaran setiap tahun. Karena itu, momentum libur sekolah harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menggerakkan ekonomi rakyat.
“Liburan sekolah adalah salah satu momen paling ditunggu dalam kalender ekonomi pariwisata Indonesia bukan hanya karena jutaan keluarga mulai merencanakan perjalanan, tapi karena dampaknya yang langsung terasa di lapisan ekonomi paling bawah,” ujar Chusnunia.
Ia mengungkapkan, sepanjang tahun 2025 wisatawan nusantara mencatatkan sekitar 1,2 miliar perjalanan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar domestik merupakan tulang punggung industri pariwisata nasional dan menjadi sumber utama perputaran ekonomi daerah.
Berbeda dengan libur panjang biasa, masa libur sekolah dinilai memiliki dampak ekonomi yang lebih besar karena durasinya lebih panjang dan mendorong keluarga mengalokasikan anggaran wisata yang lebih besar.
“Liburan sekolah berlangsung lebih panjang dan mendorong keluarga untuk melakukan perjalanan yang lebih terencana. Artinya, pengeluaran per perjalanan cenderung lebih besar,” jelas politisi tersebut.
Chusnunia menambahkan bahwa peningkatan mobilitas wisatawan tidak hanya menguntungkan destinasi wisata utama, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil di sekitar kawasan wisata.
“Lonjakan mobilitas tentunya tidak hanya terjadi di tempat wisata, tetapi juga memberikan keuntungan bagi ekonomi lokal melalui bisnis kuliner, cinderamata, hingga akomodasi,” katanya.
Karena itu, Komisi VII DPR RI meminta pemerintah memastikan kesiapan seluruh destinasi wisata, mulai dari aspek keamanan, kenyamanan, hingga kualitas pelayanan. Persiapan yang matang dinilai penting agar wisatawan mendapatkan pengalaman positif dan terdorong untuk melakukan perjalanan wisata kembali.
Selain itu, ia juga mendorong promosi destinasi wisata alternatif di berbagai daerah agar manfaat ekonomi dari lonjakan wisatawan tidak hanya dinikmati kota-kota besar atau destinasi populer.
“Kita bersama harus secara aktif mendorong eksplorasi destinasi dekat yang tetap mampu menghadirkan pengalaman berkesan agar minat wisatawan juga menyebar ke kota-kota sekunder yang memiliki potensi wisata alam dan budaya otentik,” pungkasnya.
Dengan potensi pergerakan wisatawan yang sangat besar selama libur sekolah, Chusnunia meyakini sektor pariwisata dapat menjadi salah satu motor utama penggerak ekonomi daerah dan sumber pendapatan baru bagi jutaan pelaku UMKM di seluruh Indonesia (red)

Berita terkait