JAKARTA, BERITA SENAYAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan dan penghasilan masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKB Fauqi Hapidekso mengatakan kabut asap yang berlangsung dalam waktu panjang dapat mengganggu aktivitas warga, termasuk bekerja dan bersekolah.
Menurut Fauqi, masyarakat yang tidak terlibat dalam penyebab kebakaran justru berpotensi menjadi pihak yang paling lama menanggung dampaknya.
“Bayangkan saja masyarakat harus bekerja dan bersekolah dalam kepungan asap selama berbulan-bulan tanpa pilihan untuk pindah. Jangan sampai masyarakat yang tidak menyebabkan kebakaran justru menjadi pihak yang paling lama menanggung dampaknya,” tegas Fauqi di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Kabut Asap Berisiko Ganggu Kesehatan
Fauqi mengatakan persoalan kesehatan menjadi salah satu dampak paling serius dari paparan kabut asap karhutla. Menurutnya, kualitas udara yang buruk dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut juga dinilai lebih berisiko bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan.
“Paparan asap ini memicu gangguan pernapasan serius hingga memperburuk penyakit kronis. Kondisi ini makin berbahaya bagi kelompok rentan serta pekerja luar ruangan yang saban hari menghirup udara tercemar,” tutur Fauqi.
Karena itu, ia meminta penanganan terhadap masyarakat terdampak tidak hanya dilakukan ketika kondisi sudah semakin parah. Menurut Fauqi, pemerintah perlu memastikan warga memiliki akses terhadap perlindungan kesehatan selama kabut asap masih terjadi.
Dampak karhutla juga dirasakan dalam sektor pendidikan. Fauqi menyoroti kemungkinan terganggunya kegiatan belajar mengajar ketika kualitas udara berada pada kondisi yang tidak aman bagi aktivitas luar ruangan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat meluas dari persoalan lingkungan menjadi persoalan sosial. Warga yang tetap harus menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah kepungan asap menghadapi keterbatasan dalam bergerak maupun menjalankan kegiatan secara normal.
Penghasilan Pekerja Harian Terancam
Selain kesehatan dan pendidikan, Fauqi menyoroti dampak ekonomi yang muncul akibat terbatasnya mobilitas masyarakat. Menurutnya, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap warga yang menggantungkan pendapatan dari pekerjaan harian.
“Dampak kabut asap ini berantai, mulai dari sekolah yang diliburkan hingga roda ekonomi warga yang terhenti. Mobilitas masyarakat menjadi terbatas sehingga berpengaruh langsung pada penghasilan harian mereka,” kata Fauqi.
Pembatasan aktivitas akibat kabut asap, menurut dia, dapat membuat sebagian masyarakat kehilangan kesempatan untuk bekerja dan memperoleh pendapatan.
Dengan demikian, karhutla tidak hanya menghadirkan kerugian ekologis, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.
Untuk mengurangi dampak langsung terhadap masyarakat, Fauqi mendorong pemerintah menyiapkan sejumlah fasilitas perlindungan. Ia meminta pemerintah menyediakan posko medis gratis, membagikan masker penyaring partikulat berstandar, serta menyediakan ruang evakuasi berudara bersih atau clean air shelter.
Fasilitas tersebut dinilai penting terutama bagi masyarakat yang harus tetap berada di wilayah terdampak dan tidak memiliki pilihan untuk berpindah sementara. Fauqi menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman titik api.
Fauqi meminta pemerintah memastikan perlindungan masyarakat menjadi bagian dari penanganan karhutla. Menurut dia, warga memiliki hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan aman. Karena itu, ketika masyarakat terdampak kabut asap, negara perlu memberikan perlindungan terhadap hak-hak dasar tersebut.
Penanganan karhutla, kata Fauqi, harus mencakup upaya pemadaman, perlindungan kesehatan, keberlangsungan pendidikan, serta dukungan terhadap masyarakat yang kehilangan atau mengalami penurunan penghasilan.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima dampak dari kebijakan penanganan karhutla, tetapi juga mendapatkan perlindungan selama menghadapi krisis kabut asap (red)

Berita terkait