JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, menilai rencana penguatan pembelajaran bahasa asing sejak sekolah dasar (SD) harus dibarengi dengan peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru.

Menurut Lalu Hadrian, kemampuan bahasa asing memang penting untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia menghadapi persaingan global. Namun, kebijakan tersebut tidak akan berjalan optimal jika tenaga pendidik yang menjadi ujung tombak pembelajaran belum mendapatkan dukungan memadai.

“Pembelajaran bahasa asing sejak SD sangat penting. Anak-anak harus dipersiapkan agar memiliki kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi di tingkat global,” ujar Lalu Hadrian, merespons pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama MPR-DPR-DPD 2026, Jumat (14/8/2026).

Guru Jangan Hanya Dibebani Target

Lalu Hadrian menegaskan, pemerintah harus memastikan guru memiliki kompetensi yang sesuai sebelum kebijakan pembelajaran bahasa asing diterapkan secara luas.

Menurutnya, peningkatan kemampuan guru perlu dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan. Dengan demikian, guru tidak hanya dituntut memenuhi target pembelajaran, tetapi juga memperoleh bekal yang cukup untuk mengajarkan bahasa asing secara efektif.

“Jangan sampai guru hanya diminta mengajar anak-anak dengan baik, tetapi kesejahteraan mereka masih rendah. Kalau ingin pembelajaran yang baik dan berkualitas, maka kesejahteraan guru juga harus baik,” tegasnya.

Ia menilai guru merupakan faktor penentu keberhasilan berbagai kebijakan pendidikan. Karena itu, pemerintah harus menempatkan peningkatan kesejahteraan pendidik sebagai bagian integral dari agenda peningkatan mutu pendidikan.

Fasilitas Sekolah Juga Harus Diperkuat

Selain guru, Lalu Hadrian meminta pemerintah memperhatikan kesiapan fasilitas pembelajaran. Sekolah perlu memiliki sarana yang memungkinkan siswa mempraktikkan bahasa asing secara aktif.

Laboratorium bahasa dan perangkat pembelajaran digital, kata dia, dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan memahami bahasa asing.

“Sarana dan prasarana juga harus mendukung. Kalau kita ingin pembelajaran bahasa asing berkualitas, sekolah harus memiliki fasilitas yang memadai, termasuk laboratorium bahasa dan perangkat pembelajaran digital yang menarik,” jelasnya.

Lalu Hadrian berharap kebijakan penguatan bahasa asing tidak berhenti pada penguasaan materi di ruang kelas. Pembelajaran harus diarahkan untuk membentuk generasi yang percaya diri berkomunikasi serta mampu berkompetisi di tingkat internasional.

“Tanpa kesejahteraan yang baik, guru akan sulit memberikan pembelajaran secara optimal. Karena itu, peningkatan kesejahteraan guru tidak boleh ditawar,” pungkasnya.

Menurutnya, guru yang kompeten, kesejahteraan yang layak, dan fasilitas yang memadai merupakan tiga fondasi penting agar kebijakan pembelajaran bahasa asing sejak SD benar-benar menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul (red)