JAKARTA, BERITA SENAYAN — Keberhasilan TNI Angkatan Laut (TNI AL) menggagalkan penyelundupan 1,3 ton ketamin di perairan Tanjung Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, menjadi alarm penting bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan wilayah laut Indonesia.
Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Oleh Soleh, menilai luasnya wilayah perairan Indonesia menjadi tantangan serius dalam mencegah masuknya narkoba melalui jalur laut.
Menurutnya, jaringan narkoba dapat memanfaatkan jalur-jalur yang minim pengawasan untuk memasukkan barang terlarang ke Indonesia. Karena itu, patroli dan pengawasan laut harus dilakukan secara konsisten, terutama di kawasan perbatasan dan wilayah yang selama ini rawan menjadi jalur penyelundupan.
“Patroli harus terus dilakukan dan semakin diperkuat. Selama ini jalur laut sering dijadikan pintu masuk peredaran narkoba. Banyak jalur tikus yang bisa dimanfaatkan untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia,” ujar Oleh Soleh.
Kasus penyelundupan tersebut terungkap setelah TNI AL menggagalkan masuknya ketamin seberat 1,3 ton melalui kapal MV King Sun pada Kamis (6/8/2026).
Oleh menilai jumlah barang bukti yang berhasil diamankan sangat besar. Dengan asumsi harga ketamin mencapai Rp2 juta per gram, nilai ekonomis barang tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp2,6 triliun.
“Ini jumlah yang sangat besar. Keberhasilan TNI AL menggagalkan penyelundupan 1,3 ton ketamin patut diapresiasi. Bayangkan jika barang ini berhasil masuk dan beredar di masyarakat, dampaknya akan sangat berbahaya,” katanya.
Oleh mengatakan Indonesia memiliki karakter geografis yang membuat pengawasan perbatasan laut menjadi pekerjaan tidak mudah. Banyaknya wilayah pesisir dan jalur laut memungkinkan jaringan penyelundupan mencari celah untuk menghindari pemeriksaan aparat.
Karena itu, ia meminta pengawasan tidak hanya dilakukan setelah adanya informasi intelijen, tetapi juga melalui patroli rutin dan pemetaan kawasan yang berpotensi menjadi jalur masuk narkoba.
Menurutnya, teknologi pengawasan juga perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan aparat dalam mendeteksi aktivitas mencurigakan di wilayah perairan.
Negara Diminta Tidak Kalah dari Jaringan Narkoba
Selain memperketat pengawasan, Oleh meminta aparat penegak hukum berani membongkar jaringan di balik setiap kasus penyelundupan narkoba.
Ia menilai penyelundupan dalam jumlah besar tidak mungkin hanya melibatkan pelaku lapangan. Karena itu, penyidikan harus diarahkan untuk mengungkap seluruh mata rantai jaringan, termasuk pihak yang memberikan dukungan maupun perlindungan.
“TNI harus tegas melakukan penindakan. Jangan takut dengan siapa pun yang menjadi beking jaringan narkoba. Negara tidak boleh kalah dengan jaringan narkoba,” tegasnya.
Oleh juga mendorong penguatan koordinasi antara TNI, Polri, dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Sinergi tersebut diperlukan mulai dari pengawasan pintu masuk, penindakan, pengungkapan jaringan, hingga pemutusan jalur distribusi narkoba.
Menurutnya, keberhasilan TNI AL menggagalkan penyelundupan ketamin harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat sistem pengamanan wilayah perairan Indonesia.
“Jangan sampai Indonesia menjadi pasar bagi narkoba internasional. Pengawasan di laut harus diperketat, jalur-jalur tikus harus dipetakan, dan setiap upaya penyelundupan harus ditindak tegas,” pungkas Oleh Soleh (red)

Berita terkait