JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Selly Andriany Gantina, mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas tragedi terbakarnya tiga santri di Pondok Pesantren Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia meminta proses hukum dilakukan secara transparan agar tidak memunculkan kecurigaan publik.

“Jika memang tidak ada kepentingan harusnya bisa diungkap cepat. Jangan berdusta kepada publik,” kata Selly dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Kasus tersebut kembali menjadi sorotan setelah sejumlah video beredar luas di media sosial yang memperlihatkan tiga santri mengalami luka bakar serius dan menjalani perawatan di rumah sakit. Selain itu, beredar pula video yang menunjukkan dugaan intimidasi terhadap para korban saat hendak berangkat menghadiri podcast bersama Denny Sumargo di bandara.

Selly menegaskan keselamatan dan pemulihan para korban yang masih berstatus anak harus menjadi prioritas utama dalam penanganan perkara tersebut. Ia meminta aparat penegak hukum mengungkap seluruh fakta secara terbuka serta tidak menutup-nutupi proses penyelidikan.

Menurutnya, lambannya penanganan perkara sejak laporan pertama pada akhir 2025 telah berdampak pada pemenuhan hak-hak korban.

“Ini menjadi catatan, bagaimana proses ini begitu lama, hak-hak korban yang merupakan anak tidak dipenuhi,” ujarnya.

Selain dugaan tindak pidana yang menyebabkan para santri mengalami luka bakar, Selly juga menyoroti adanya dugaan perundungan yang disebut dilakukan oleh senior di lingkungan pondok pesantren sebagaimana disampaikan para korban. Ia berharap aparat kepolisian bekerja secara profesional, objektif, dan tidak menyimpang dari aturan maupun kode etik dalam menangani kasus tersebut.

Selly juga mengutip sikap Ketua DPR RI Puan Maharani yang mengecam segala bentuk perundungan terhadap anak.

“Jangan sampai ini menciptakan persepsi negatif dan menghilangkan kepercayaan publik baik kepada penegak hukumnya maupun lembaga pendidikan keagamaan,” pungkas Selly (red)