JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB Habib Syarief Muhammad mengingatkan penurunan minat calon mahasiswa terhadap program studi sains pada Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) PTN 2026 menjadi ancaman serius bagi masa depan daya saing Indonesia. Ia menilai kondisi tersebut dapat membuat Indonesia terus bergantung pada teknologi impor dan kehilangan kesempatan menjadi negara penghasil inovasi.
Menurut Habib Syarief, fenomena minimnya pendaftar program studi sains dibandingkan daya tampung harus menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut keberlangsungan riset dan pengembangan teknologi nasional.
“Menurunnya minat calon mahasiswa terhadap program studi sains dibandingkan daya tampung yang tersedia tidak bisa dianggap sepele. Ini adalah alarm keras bagi masa depan daya saing bangsa. Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi, bukan produsen,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Ia menilai rendahnya minat generasi muda terhadap bidang sains dipengaruhi belum terbentuknya ekosistem industri yang mampu memberikan kepastian karier bagi lulusan sains. Profesi peneliti dan ilmuwan, kata dia, masih belum memperoleh penghargaan yang memadai serta belum didukung jalur karier yang jelas.
Karena itu, Habib mendesak pemerintah segera membangun ekosistem yang membuat bidang sains menjadi pilihan menarik bagi generasi muda.
“Pemerintah harus memastikan kurikulum sains lebih kontekstual, menarik, dan relevan dengan perkembangan teknologi. Yang tidak kalah penting, lulusan sains harus memiliki peluang kerja yang nyata sehingga generasi muda melihat bahwa memilih sains adalah investasi masa depan,” tegasnya.
Politisi PKB tersebut juga meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengambil langkah afirmatif dengan memperbanyak beasiswa untuk rumpun sains, memodernisasi laboratorium di sekolah maupun perguruan tinggi, serta meningkatkan anggaran riset nasional agar kolaborasi antara kampus dan industri semakin kuat.
Menurut Habib, investasi terhadap sumber daya manusia di bidang sains menjadi syarat utama apabila Indonesia ingin keluar dari ketergantungan terhadap produk dan teknologi asing.
“Kalau pemerintah ingin mewujudkan visi Indonesia sebagai negara maju, maka investasi terbesar harus dimulai dari membangun SDM sains. Jangan sampai kita kehilangan satu generasi ilmuwan karena mereka merasa bidang ini tidak menjanjikan,” pungkasnya (red)

Berita terkait