JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi III DPR RI, Hasbiallah Ilyas, meminta aparat penegak hukum tidak hanya berfokus pada perusahaan penyelenggara perjalanan umrah dalam mengusut dugaan penipuan yang melibatkan PT Khazanah Tamma Internasional (Hanania Travel). Ia menegaskan, penelusuran harus diperluas hingga ke tingkat agen dan penghimpun jemaah yang diduga memiliki keterkaitan dengan aliran dana para korban.

Pernyataan tersebut disampaikan Hasbiallah dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI bersama Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, kuasa hukum, serta perwakilan korban dugaan penipuan perjalanan ibadah umrah oleh Hanania Travel di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Menurut Legislator Fraksi PKB itu, pengungkapan kasus akan sulit dilakukan secara menyeluruh apabila penyidikan hanya menyasar pihak travel tanpa menelusuri jaringan penghimpun jemaah yang selama ini berperan mengumpulkan dana masyarakat.

“Yang perlu dicermati, ini bukan hanya di travel-nya, (tetapi juga) di pihak bawahnya. Ini kan travel dapat duit dari yang bawah-bawah ini. Biasanya nyimpen uangnya itu dari yang bawah-bawahnya itu, yang pencari jemaahnya ini,” ujar Hasbiallah.

Ia menjelaskan bahwa pola penghimpunan calon jemaah melalui agen atau perantara merupakan praktik yang lazim dalam bisnis perjalanan umrah. Karena itu, aparat penegak hukum perlu mendalami peran para pihak yang berhubungan langsung dengan calon jemaah dan mengelola dana setoran masyarakat.

Hasbiallah meyakini penelusuran terhadap agen dan penghimpun jemaah dapat membuka jalur aliran dana yang selama ini belum terungkap dalam kasus dugaan penipuan tersebut.

“Tolong penampung-penampung, pengkulak-pengkulak jamaahnya ini mesti diselidiki. Karena biasanya duit itu, uang itu larinya dari situ,” tegasnya.

Selain menyoroti aspek hukum, Hasbiallah juga mengingatkan adanya dampak psikologis yang dialami para korban. Menurutnya, banyak calon jemaah yang telah mempersiapkan diri secara matang untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci, namun harus menerima kenyataan pahit akibat gagal berangkat.

Ia menilai kerugian yang dialami korban tidak hanya berupa hilangnya dana yang telah disetorkan, tetapi juga tekanan mental dan kekecewaan mendalam karena impian beribadah tidak dapat terwujud.

“Kasihan, orang sudah menyiapkan diri untuk umrah, tiba-tiba tidak jadi berangkat. Mentalnya itu terpukul. Tolong sampai setuntas-tuntasnya ini, Pak. Ini buat pelajaran ke travel-travel berikutnya,” pungkasnya.

Hasbiallah berharap aparat penegak hukum dapat mengusut kasus tersebut hingga tuntas, mengungkap seluruh pihak yang terlibat, serta memaksimalkan upaya pengembalian kerugian para korban agar kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara perjalanan ibadah tetap terjaga (red)