JAKARTA, BERITA SENAYAN – Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengusulkan Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah diplomasi besar dengan menginisiasi konferensi internasional baru yang terinspirasi dari semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Menurut Hasto, Indonesia memiliki modal sejarah dan posisi strategis untuk menjadi motor perdamaian dunia di tengah memanasnya berbagai konflik global.

Gagasan tersebut disampaikan Hasto saat memberikan kuliah umum bertajuk Pemikiran Geopolitik Bung Karno dalam rangka Dies Natalis ke-27 Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Kamis (11/6/2026).

“Hasto menilai Indonesia perlu menghadirkan forum internasional baru yang dirancang secara matang seperti saat Bung Karno mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika,” demikian pandangannya dalam kuliah umum tersebut.

Menurut Hasto, ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, Semenanjung Korea, hingga Selat Taiwan membutuhkan ruang dialog baru yang kredibel dan dapat diterima oleh semua pihak. Karena itu, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengambil peran sebagai mediator dan fasilitator perdamaian global.

Ia menyebut konsep tersebut dapat diwujudkan melalui sebuah konferensi internasional yang menjadi semacam “KAA Plus”, yakni forum yang mempertemukan berbagai negara dan pemangku kepentingan untuk mencari jalan keluar atas konflik-konflik strategis dunia.

“Bagaimana konferensi tersebut direncanakan secara detail. Bung Karno dulu merencanakan KAA dengan sangat matang, melibatkan semua elemen termasuk mahasiswa untuk melayani delegasi dengan hormat. Itu adalah bagian dari the art of diplomacy kita,” ujar Hasto.

Menurutnya, keberhasilan diplomasi tidak hanya ditentukan oleh substansi pembahasan, tetapi juga oleh kemampuan tuan rumah membangun rasa saling percaya dan penghormatan antarpeserta. Karena itu, Indonesia perlu mencontoh pendekatan Bung Karno yang menggabungkan visi geopolitik dengan diplomasi kebudayaan.

Hasto juga menilai inisiatif tersebut akan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional sekaligus membuka peluang kerja sama strategis yang menguntungkan kepentingan nasional.

Selain mengusulkan forum perdamaian baru, Hasto menegaskan bahwa pemikiran geopolitik Bung Karno masih sangat relevan untuk menjawab tantangan dunia saat ini. Ia meyakini Indonesia dapat kembali memainkan peran penting sebagai kekuatan penyeimbang di tengah meningkatnya rivalitas global.

Dengan modal sejarah sebagai penyelenggara KAA dan pelopor Gerakan Non-Blok, Indonesia dinilai memiliki legitimasi kuat untuk menghidupkan kembali semangat diplomasi yang berorientasi pada perdamaian, kedaulatan, dan kerja sama antarbangsa (red)