JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin, menegaskan bahwa seluruh bentuk kekerasan seksual di lingkungan pesantren harus dihentikan dan ditangani secara serius oleh semua pihak terkait.
Pernyataan itu disampaikan Gus Muhaimin saat membuka Temu Nasional Pondok Pesantren yang diikuti lebih dari 250 pengasuh pondok pesantren dari seluruh Indonesia di Jakarta.
Ia mengaku prihatin atas sejumlah kasus kekerasan seksual yang mencoreng nama baik pesantren. Menurutnya, pelaku tidak dapat lagi dikaitkan dengan nilai dan kehormatan pesantren.
“Saya sangat prihatin, bersedih, dan tidak diam. Segelintir pesantren mencemarkan nama baik pesantren-pesantren lain yang tidak pernah punya rekam jejak negatif,” ujar Gus Muhaimin, Senin (18/5/2026).
Ia menegaskan bahwa siapa pun yang terlibat dalam kekerasan seksual tidak pantas disebut sebagai kiai maupun representasi lembaga pesantren. Menurutnya, tindakan tersebut telah keluar dari nilai-nilai keadaban pesantren.
“Kasus-kasus terakhir, siapa pun dia, sudah keluar dari keadaban pesantren. Yang saya sebut bukan kiai, bukan pesantren,” tegasnya.
Gus Muhaimin menegaskan PKB tidak akan tinggal diam dan akan mendorong penguatan sistem pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan berbasis pesantren. Ia menyebut langkah utama yang harus dilakukan adalah memastikan tidak ada lagi kekerasan di lingkungan pendidikan, sekaligus memperkuat edukasi tentang hak-hak pribadi dan perlindungan tubuh bagi peserta didik.
Menurutnya, edukasi tersebut penting diberikan sejak dini agar santri memahami batasan dan mampu melindungi diri dari potensi kekerasan seksual.
“Di beberapa negara, sejak TK sudah diajari hak-hak tubuh yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah daerah hingga kepala daerah untuk mengoordinasikan lembaga pendidikan agar menerapkan orientasi perlindungan hak tubuh bagi peserta didik.
Selain itu, Gus Muhaimin mengapresiasi gerakan Perempuan Bangsa dalam upaya melawan kekerasan seksual di lingkungan pesantren dan menjaga marwah lembaga pendidikan Islam.
Ia juga mendorong keterlibatan Kementerian Agama, Kementerian PPPA, aparat kepolisian, serta pemerintah daerah untuk menjadikan upaya ini sebagai gerakan nasional.
“Hukuman sekeras-kerasnya. Saya minta pihak kepolisian benar-benar respons cepat karena ini sudah darurat kekerasan,” tegasnya.
Gus Muhaimin juga meminta aparat melakukan deteksi dini serta langkah pencegahan agar masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap pelaku (red)

Berita terkait