JAKARTA, BERITA SENAYAN – Pegiat media sosial Ade Armando mengungkap adanya suara-suara di internal Partai Solidaritas Indonesia yang menilai dirinya menghambat proses rebranding partai pasca Kongres Solo. Ade menyebut keberadaannya di PSI dianggap menyulitkan partai dalam menarik dukungan pemilih muslim.
Ade Armando mengaku telah mendengar dorongan dari sejumlah pihak di internal partai agar dirinya tidak lagi berada di PSI. Meski demikian, ia mengatakan tidak ada pihak yang menyampaikan hal tersebut secara langsung kepadanya.
“Saya sudah dengar ya suara-suara di PSI yang mengatakan bahwa saya harus diberhentikan. Saya itu sosok yang jadinya mengganggu rebranding-nya PSI,” ujar Ade, Rabu (13/5/2026).
Ade menilai kasus hukum yang menimpanya terkait kritik terhadap pidato Jusuf Kalla di UGM menjadi salah satu momentum yang memperkuat dorongan agar dirinya keluar dari partai. Ia merasa PSI tidak memberikan dukungan penuh ketika dirinya menghadapi polemik tersebut.
Menurut Ade, sebagian pihak di PSI menganggap citranya dapat menghambat strategi partai dalam memperluas basis pemilih, khususnya dari kelompok Islam. Ia pun memilih mundur sebagai kader PSI pada 5 Mei 2026 melalui jumpa pers di Kantor DPP PSI, Jakarta.
“Saya tidak ingin menyalahkan. Tapi ketika itu, PSI sendiri tidak mendukung saya jadinya. Karena tadi saya katakan, saya sudah dengar ada kalimat-kalimat Ade Armando mengganggu sekali, udah dilepasin aja,” katanya.
Pernyataan Ade Armando kemudian ditanggapi Ketua DPP PSI Bidang Politik Bestari Barus. Bestari menilai Ade sudah tidak memiliki kewenangan mencampuri urusan internal partai sejak tidak lagi masuk dalam struktur kepengurusan PSI.
Polemik ini menambah sorotan publik terhadap arah rebranding PSI setelah perubahan identitas dan strategi politik yang mulai diperkenalkan usai Kongres Solo (red)

Berita terkait