JAKARTA, BERITA SENAYAN – Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Zezen Zaenal Mutaqin, menyatakan bahwa peristiwa Peristiwa Karbala menjadi simbol dan spirit perlawanan Iran terhadap dominasi Amerika Serikat dan Israel dalam konteks geopolitik saat ini.
Hal tersebut disampaikan Zezen dalam diskusi bertajuk Peradaban Persia dan Peta Geopolitik Timur Tengah Pasca Perang Amerika Serikat-Israel vs Iran yang digelar di Sekretariat MN KAHMI, Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
Menurut Zezen, Peristiwa Karbala merupakan bentuk perlawanan Imam Husein terhadap kekuasaan Dinasti Umayyah yang dipimpin Yazid bin Mu’awiyah.
“Dalam konteks sejarah, hanya Imam Husein yang menolak berbaiat kepada Yazid, meskipun sebagian besar kekuatan politik saat itu telah mengakuinya,” ujar Zezen.
Ia menjelaskan, Imam Husein dicegat oleh pasukan Umayyah saat hendak menuju Kufah, basis pendukungnya, hingga akhirnya gugur dalam pertempuran yang tidak seimbang pada 10 Muharam 61 Hijriah atau 680 Masehi di Karbala, Irak.
Peristiwa tersebut hingga kini diperingati setiap tahun oleh kaum Syiah sebagai hari Asyura.
Zezen menilai, terdapat empat pelajaran penting dari Peristiwa Karbala yang relevan dengan sikap politik Iran saat ini. Pertama, Iran diposisikan sebagai bangsa yang tertindas akibat tekanan global, termasuk embargo yang dipimpin Barat.
Kedua, Karbala membentuk karakter kritis Iran terhadap kekuatan dominan dunia. Ketiga, peristiwa tersebut menjadi blueprint perlawanan, di mana kekalahan fisik tidak berarti kekalahan moral.
“Pemimpin bisa gugur, tetapi semangat perlawanan tetap hidup,” tegasnya.
Keempat, Karbala mengajarkan nilai pengorbanan dalam perjuangan melalui konsep jihad fisabilillah yang dinilai menjadi energi perlawanan Iran terhadap kekuatan besar dunia.
Diskusi tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber lain, di antaranya mantan Duta Besar Suriah periode 2019–2025 Wajid Fauzi, akademisi Universitas Indonesia M. Syaroni Rofii, serta peneliti Paramadina Public Policy Institute Topan Mahdi.
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta ini juga dimoderatori oleh Wakil Rektor Universitas Insan Cita Indonesia, Lely Pelitasari Soebekti, dan dihadiri Ketua Bidang Politik MN KAHMI, Alfan Alfian.
Dalam kesempatan tersebut, Alfan juga membagikan buku berjudul Demokrasi Digital, Manusia, Teknologi dan Kontestasi kepada peserta diskusi (red)

Berita terkait