JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Pelaksana Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-79, Raihan Fudloli, mendorong pemberian bantuan dana pendidikan bagi kader HMI yang terdampak banjir dan longsor di Aceh serta sejumlah wilayah Sumatera. Usulan ini menjadi sorotan karena bencana tidak hanya merusak tempat tinggal, tetapi juga mengancam keberlangsungan pendidikan para kader.

Dorongan tersebut disampaikan Raihan dalam sambutannya pada puncak Dies Natalis HMI ke-79 di Smesco, Jakarta, Minggu (01/03). Ia mengajak kader, alumni, dan simpatisan HMI untuk memperkuat solidaritas serta memastikan para kader terdampak tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.

Raihan menilai bantuan pendidikan perlu menjadi perhatian serius keluarga besar HMI, terutama bagi kader yang mengalami kerusakan tempat tinggal dan kesulitan ekonomi akibat bencana. Menurutnya, pemulihan pascabencana harus memperhatikan masa depan pendidikan generasi muda, bukan hanya perbaikan kondisi fisik.

“Bencana tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat mengancam keberlangsungan pendidikan dan masa depan mahasiswa,” ujar Raihan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan langsung bersama jajaran Pengurus Besar HMI ke sejumlah lokasi terdampak di Sumatera Utara dan Aceh Tamiang. Dalam kunjungan itu, Raihan bersama Badko HMI Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melakukan pendataan terhadap kader yang membutuhkan bantuan.

Salah satu kader yang menjadi perhatian ialah Mukhlis, Ketua Umum HMI Komisariat Aceh Tamiang. Rumahnya terdampak parah sehingga ia harus tinggal sementara di rumah kayu darurat di Desa Babo.

Berdasarkan pendataan by name by address yang dilakukan sementara, tercatat sebanyak 97 kader HMI terdampak bencana di wilayah Sumatera. Raihan menegaskan bahwa pendataan tersebut masih terus diperbarui untuk memastikan seluruh kader yang membutuhkan dukungan dapat teridentifikasi.

“Pendataan yang akurat penting agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran sekaligus memastikan kader yang membutuhkan tidak terlewatkan,” tegasnya.

Ia juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas dukungan pendidikan bagi kader terdampak. Menurut Raihan, kerja bersama dan semangat gotong royong menjadi kunci dalam membantu para kader melewati masa sulit setelah bencana.

Solidaritas HMI dan Gagasan Unity Personality

Raihan mengaitkan upaya membantu kader terdampak bencana dengan gagasan unity personality, yakni pembentukan kepribadian kader yang utuh dan memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial. Baginya, nilai keislaman, intelektualitas, dan kemanusiaan yang menjadi bagian dari tradisi HMI harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Nilai keislaman, intelektualitas, dan kemanusiaan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk hadir ketika kader dan masyarakat menghadapi musibah,” ungkap Raihan.

Selain mendorong bantuan pendidikan, Raihan menyampaikan gagasan agar Nurcholish Madjid atau Cak Nur, tokoh pembaru pemikiran Islam sekaligus salah satu tokoh penting dalam sejarah HMI, terus mendapatkan pengakuan atas kontribusinya bagi bangsa, termasuk melalui pengusulan sebagai pahlawan nasional.

Menurutnya, pemikiran dan keteladanan Cak Nur dapat menjadi inspirasi bagi kader HMI untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Melalui usulan bantuan dana pendidikan bagi kader terdampak bencana, Raihan berharap solidaritas keluarga besar HMI dapat diperkuat. Dukungan tersebut diharapkan membantu para kader bangkit, melanjutkan pendidikan, dan menata kembali masa depan setelah menghadapi bencana di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera (red)