JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Umum Pimpinan Pusat Wanita Syarikat Islam (WSI), Valina Singka Subekti, menekankan pentingnya penguatan literasi digital untuk menjaga ketahanan keluarga di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi harus diimbangi dengan pemahaman terhadap risiko digital, perlindungan perempuan dan anak, serta pendidikan karakter bagi generasi muda.
Pesan tersebut mengemuka dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) WSI yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 di Jakarta. Mengusung tema “Memperkokoh Ketahanan Keluarga di Era Digital dalam Rangka Membangun Generasi Emas Indonesia 2045”, forum tersebut membahas strategi penguatan keluarga, perlindungan perempuan dan anak, serta peningkatan peran perempuan dalam pembangunan.
Valina menilai, perkembangan teknologi informasi membawa peluang untuk memperluas akses pengetahuan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, tanpa literasi yang memadai, penggunaan teknologi juga dapat menghadirkan tantangan bagi keluarga, khususnya dalam mendampingi anak menghadapi berbagai konten dan aktivitas di ruang digital.
“Pendidikan harus mampu melahirkan masyarakat yang cerdas dan berilmu pengetahuan sekaligus membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia,” demikian Valina dalam sambutannya Jum’at (23/10)
Menurutnya, pendidikan perlu membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki etika dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat maupun berpolitik.
WSI Soroti Ancaman Digital terhadap Ketahanan Keluarga
Valina menyoroti beragam persoalan yang berpotensi mengancam ketahanan keluarga, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kekerasan seksual, hingga pornografi, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, serta perjudian daring. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perhatian bersama karena dapat memengaruhi keamanan keluarga dan perkembangan generasi muda.
Untuk menghadapi tantangan itu, literasi digital perlu diperkuat melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Anak-anak perlu dibekali kemampuan memilah informasi, mengenali risiko di internet, serta memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
Valina juga mendorong orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak mengenai penggunaan gawai dan aktivitas di ruang digital. Pendampingan keluarga menjadi salah satu unsur penting agar teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan pengembangan diri, bukan justru menghadirkan risiko yang tidak dipahami anak.
Mukernas WSI diikuti perwakilan 19 pimpinan wilayah setingkat provinsi dan 100 pimpinan cabang setingkat kabupaten/kota. Partisipasi dari berbagai daerah tersebut diharapkan memperkuat koordinasi organisasi sekaligus memperluas penerapan program literasi digital dan perlindungan keluarga di tingkat masyarakat.
Selain isu digital, forum nasional ini juga membahas pemberdayaan ekonomi dan penguatan peran perempuan dalam kehidupan sosial. WSI berharap program yang disusun dapat menjawab kebutuhan keluarga dan masyarakat secara lebih nyata.
Perempuan Berdaya dan Keluarga Tangguh Menuju Indonesia Emas
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, dalam kesempatan tersebut menegaskan pentingnya peran perempuan dan anak dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ia menyoroti perlunya kolaborasi pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat untuk memperkuat perlindungan serta meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak.
Sejumlah tantangan yang menjadi perhatian meliputi kekerasan terhadap perempuan dan anak, perkawinan anak, keterbatasan akses perempuan terhadap sumber ekonomi, serta belum optimalnya keterwakilan perempuan dalam proses pembangunan. Persoalan tersebut membutuhkan kebijakan dan program berkelanjutan agar perlindungan dan pemberdayaan menjangkau masyarakat hingga tingkat daerah.
Mukernas WSI juga dirangkaikan dengan peluncuran buku karya Valina Singka Subekti berjudul Wanita Syarikat Islam: Peran Historis dalam Dinamika Kebangsaan Indonesia. Buku tersebut mendokumentasikan perjalanan organisasi dan kontribusi perempuan dalam dinamika kebangsaan Indonesia.
Melalui konsolidasi organisasi, penguatan literasi digital, perlindungan perempuan dan anak, serta pemberdayaan ekonomi, WSI berharap dapat memperluas kontribusi perempuan dalam pembangunan. Upaya tersebut diharapkan turut membangun keluarga yang tangguh dan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda menuju Indonesia Emas 2045 (red)

Berita terkait