JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB, Maman Imanul Haq, meminta Kementerian Agama (Kemenag) segera membuka ruang dialog antara pihak rektorat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dengan mahasiswa, dosen, dan alumni.
Menurut Maman, komunikasi terbuka diperlukan untuk mencegah polemik pascapelantikan Rektor UINSA periode 2026–2030 semakin berlarut dan berdampak terhadap kegiatan akademik.
“Jangan biarkan komunikasi antarpihak terputus, dialog harus dibuka secara resmi dan substantif. Mahasiswa diberikan ruang menyampaikan aspirasi, sementara rektorat diberi kesempatan memberikan klarifikasi,” ujar Maman di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (21/9/2026).
Maman menilai aksi mahasiswa yang muncul setelah pelantikan Prof. Akhmad Muzakki sebagai Rektor UINSA pada 15 September 2026 tidak boleh hanya dipandang sebagai aksi demonstrasi semata.
Menurutnya, aspirasi yang disampaikan mahasiswa perlu didengar dan ditindaklanjuti secara serius. Terlebih, dinamika tersebut juga disebut melibatkan unsur dosen, guru besar, hingga alumni.
“Aspirasi mahasiswa, dosen, guru besar, dan alumni harus didengar secara serius dan diselesaikan secara transparan,” katanya.
Maman mengingatkan persoalan yang tidak segera mendapatkan ruang penyelesaian berpotensi mengganggu aktivitas perkuliahan.
Politikus PKB itu meminta Kemenag mengambil peran sebagai fasilitator dalam mempertemukan pihak-pihak yang tengah berselisih. Forum tersebut, kata dia, harus menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi sekaligus memberikan kesempatan kepada pihak rektorat menjelaskan kebijakan maupun persoalan yang dipersoalkan sivitas akademika.
Menurut Maman, penyelesaian tidak cukup dilakukan melalui komunikasi informal. Dialog resmi dan substantif diperlukan agar setiap persoalan dapat dibahas secara terbuka.
UKT dan Fasilitas Akademik Perlu Dibahas
Maman juga menyoroti sejumlah persoalan yang berkaitan langsung dengan kepentingan mahasiswa, termasuk penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan fasilitas akademik.
Ia mendorong agar persoalan tersebut dimasukkan dalam agenda dialog sehingga mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan keberatan mereka.
Dengan adanya komunikasi langsung, pihak kampus juga dapat memberikan penjelasan mengenai kebijakan yang menjadi perhatian mahasiswa.
Maman menegaskan penyelesaian polemik UINSA harus tetap mempertimbangkan keberlangsungan proses pendidikan.
Ia tidak ingin konflik antara sivitas akademika dan pihak kampus justru membuat mahasiswa menjadi pihak yang paling terdampak.
“Jangan sampai persoalan ini dibiarkan berlarut-larut hingga merugikan mahasiswa dan mengganggu proses akademik,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong seluruh pihak menahan diri sembari membuka jalur komunikasi yang memungkinkan persoalan dibahas secara konstruktif.
Maman Imbau Mahasiswa Tetap Tertib
Di tengah berlangsungnya dinamika di lingkungan UINSA, Maman meminta mahasiswa tetap menyampaikan kritik dan aspirasi secara tertib.
Ia menilai kebebasan berpendapat dan ruang mimbar bebas tetap penting dalam kehidupan akademik. Namun, penyampaian aspirasi harus tetap memperhatikan keamanan lingkungan kampus dan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Menurutnya, kritik mahasiswa merupakan bagian dari kehidupan akademik, tetapi penyelesaiannya perlu ditempuh melalui mekanisme dialog dan komunikasi yang terbuka.
Maman berharap Kemenag, rektorat, mahasiswa, dosen, dan alumni dapat duduk bersama mencari jalan keluar sehingga polemik tidak berkembang menjadi gangguan berkepanjangan terhadap kegiatan pendidikan di UINSA Surabaya (red)

Berita terkait