JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Chusnunia Chalim, mendesak pemerintah memperkuat industri bahan baku pakan ternak dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Langkah tersebut dinilai penting menyusul kenaikan harga pakan yang semakin membebani biaya produksi dan keberlangsungan usaha peternak.
Chusnunia yang akrab disapa Nunik mengatakan, kenaikan harga pakan harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk membenahi struktur industri pakan nasional. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya memiliki industri pengolahan pakan berskala besar, tetapi juga perlu memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan bahan bakunya secara mandiri.
“Kami menerima laporan mengenai kenaikan harga pakan ternak yang dikeluhkan para peternak. Kondisi ini tentu menjadi beban tersendiri karena pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi peternakan. Ketika harga pakan terus meningkat, keuntungan peternak semakin tertekan. Karena itu, kenaikan harga ini harus menjadi momentum untuk memperkuat industri bahan baku pakan di dalam negeri,” ujar Nunik di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Besarnya pengaruh harga pakan terhadap biaya produksi terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam publikasi Statistik Perusahaan Peternakan Unggas 2025, total pengeluaran perusahaan peternakan unggas di Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp25,306 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar 64,26 persen atau sekitar Rp16,26 triliun digunakan untuk membeli pakan.
“Artinya, hampir dua pertiga biaya operasional perusahaan peternakan unggas terserap untuk kebutuhan pakan. Ini menunjukkan betapa strategisnya persoalan harga pakan bagi keberlangsungan industri peternakan. Jika harga pakan terus meningkat, tekanan terhadap biaya produksi juga semakin besar,” katanya.
Ketergantungan Impor Bahan Baku Pakan Bebani Peternak
Nunik menjelaskan, kebutuhan bahan baku pakan unggas nasional selama ini masih dipenuhi melalui kombinasi produksi dalam negeri dan impor. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, komposisi bahan baku pakan ayam pedaging terdiri atas 60 persen bahan lokal dan 40 persen bahan impor. Sementara untuk pakan ayam petelur, komposisinya sekitar 63 persen bahan lokal dan 37 persen impor.
Dalam formulasi kedua jenis pakan tersebut, jagung menjadi bahan baku terbesar dengan porsi sekitar 45 persen yang dipenuhi dari produksi dalam negeri. Namun, bahan baku terbesar kedua, yakni bungkil kedelai atau soybean meal (SBM), masih bergantung pada pasokan impor.
Porsi bungkil kedelai dalam formulasi pakan ayam pedaging mencapai sekitar 25 persen, sedangkan pada pakan ayam petelur sekitar 20 persen. Ketergantungan ini membuat industri pakan nasional rentan terhadap perubahan harga komoditas global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta gangguan rantai pasok internasional.
“Ketika harga bahan baku impor meningkat atau nilai tukar rupiah melemah, industri pakan ikut menanggung kenaikan biaya. Dampaknya kemudian dirasakan peternak. Karena itu, kita perlu membangun industri bahan baku pakan yang lebih kuat agar tidak terus-menerus rentan terhadap gejolak eksternal,” jelasnya.
Menurut Nunik, pemerintah perlu memperkuat industri pengolahan bahan baku pakan di dalam negeri agar struktur industri tidak terus bergantung pada pasokan luar negeri. Ia mendorong Kementerian Perindustrian mengambil peran lebih aktif melalui penguatan investasi, pengembangan teknologi pengolahan, riset bahan baku alternatif, serta peningkatan kapasitas industri berbasis komoditas lokal.
Ia juga menilai sinergi antara industri pakan dan sektor pertanian perlu diperkuat. Produksi jagung serta berbagai komoditas potensial lainnya harus dikembangkan menjadi bagian dari rantai pasok industri pakan nasional. Dengan demikian, petani lokal memiliki kepastian pasar, sementara industri memperoleh jaminan pasokan bahan baku.
“Potensi bahan baku lokal harus terus dikembangkan. Kita perlu mendorong inovasi dan riset agar berbagai komoditas dalam negeri dapat diolah menjadi bahan baku pakan yang memenuhi standar nutrisi dan kualitas industri. Jangan sampai kita memiliki potensi sumber daya alam, tetapi industri pakan masih terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri,” tuturnya.
Nunik Ingatkan Kenaikan Pakan Bisa Berdampak pada Harga Ayam dan Telur
Lebih lanjut, Nunik mengingatkan bahwa kenaikan harga pakan bukan hanya persoalan industri, melainkan juga berkaitan dengan keberlangsungan peternak rakyat dan keterjangkauan pangan masyarakat.
Menurutnya, peningkatan biaya pakan berpotensi menambah beban produksi peternakan unggas. Apabila tekanan biaya tersebut berlanjut, peternak dapat menghadapi kesulitan mempertahankan keuntungan dan keberlangsungan usahanya.
Dampaknya juga berpotensi menjalar ke harga jual produk peternakan, terutama ayam dan telur yang menjadi sumber protein bagi masyarakat. Karena itu, penguatan industri bahan baku pakan perlu menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas sektor peternakan sekaligus mendukung keterjangkauan pangan.
Nunik berharap pemerintah tidak hanya merespons kenaikan harga pakan melalui langkah jangka pendek, tetapi juga membangun strategi jangka panjang untuk memperkuat kemandirian bahan baku. Pengembangan industri lokal, inovasi teknologi, dan kemitraan dengan sektor pertanian dinilai penting agar industri pakan nasional lebih tangguh menghadapi gejolak global.
Dengan memperkuat pasokan bahan baku dalam negeri, pemerintah diharapkan dapat mengurangi kerentanan industri pakan terhadap perubahan harga internasional sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternak di Indonesia (red)

Berita terkait