Oleh : Eva K. Sundari

JAKARTA, BERITA SENAYAN – Bung Angga pernah berjanji kepadaku: buku berikutnya yang akan ia tulis adalah tentang Sarinah.

Janji itu terasa semakin berarti sekarang. Sebab Sarinah bukan sekadar nama seorang perempuan yang pernah hadir dalam hidup Bung Karno. Bagi Angga, dan bagi kami yang sedang mencoba membaca kembali Marhaenisme secara utuh, Sarinah adalah pintu masuk untuk memahami dari mana keberpihakan Bung Karno kepada wong cilik dibentuk.

Angga juga yang menyampaikan protesku kepada Pusat Studi Pancasila yang berkali-kali menyelenggarakan Kongres Pancasila, tetapi nyaris tidak pernah menyentuh persoalan kesetaraan gender—padahal sila kedua dengan jelas menjanjikan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dalam sebuah bedah buku Marhaenisme dalam Dialektika Aristoteles karya Willy Farianto, Angga mendukung pendapatku bahwa dalam Marhaenisme sesungguhnya ada Sarinahisme. Bung Karno, kataku, menjadi pro-perempuan—pro-Sarinah—terlebih dahulu sebelum menjadi pro-rakyat, pro-Marhaen. Sarinahlah yang mengajari Sukarno untuk berpihak kepada rakyat. Sarinahlah yang membentuk karakter Sukarno sehingga ia mampu melihat dan membela wong cilik.

Angga mengiyakan itu dengan keyakinan seorang yang sungguh-sungguh menghayati Sukarno, bukan sekadar mengutipnya.

Yang paling mengejutkanku adalah ketika kemudian aku menemukan bahwa Angga juga mendukung care economy—sebuah konsep yang bahkan belum banyak diminati para pemikir laki-laki, termasuk mereka yang berlatar belakang ekonomi. Ia menjadi supporter organik advokasi pengesahan UU PPRT, sebuah perjuangan untuk melindungi kaum Sarinah: para pekerja rumah tangga yang selama ini kerja perawatannya dianggap “bukan kerja”, karena dilakukan terutama oleh perempuan dan berlangsung di ruang domestik.

Dalam perjalanan advokasi UU PPRT yang sering kurasakan begitu sepi dukungan, aku menemukan satu hal: mereka yang sungguh-sungguh menghayati Marhaenisme dan Feminisme biasanya akan memahami perjuangan ini. Sebab keduanya bertemu pada satu hal yang sama: pembebasan manusia dari segala bentuk dominasi.

Angga adalah salah satunya.

Ia adalah semangka—hijau di luar, merah di dalam. Ia datang dari tradisi HMI yang hijau, tetapi isi pikirannya merah: pendukung ideologi pembebasan berbasis Pancasila, Marhaenisme dan ajaran Bung Karno.

Maka wajar jika teman-teman GMNI dan Institut Sarinah siang kemarin oleng sepanjang hari. Kami kehilangan penerang.

Aku sendiri sedang mempresentasikan usulan RPP untuk UU PPRT di KPPPA ketika membaca pesan:

“Angga berpulang.”

Jimpes atiku.

Aku kemudian mengecek WAG Pancasila dan DBR yang dibuatnya. Chatting masih bernada teriakan—tetapi kali ini tidak ada bantahan. Tidak ada Angga yang menyambar dengan argumen. Tidak ada koreksi. Tidak ada provokasi intelektual yang biasanya membuat kami berpikir ulang.

Saat itu aku baru benar-benar menyadari:
Angga sudah pergi.

Aku meminta maaf kepada peserta workshop karena presentasiku beberapa kali tersendat sambil menyampaikan berita duka itu.

Angga adalah seorang kiri. Marhaenis. Sukarnois. Merah.

Tetapi kategori “merah”-nya penting untuk dicatat. Ia merah karena ia ideolog kaum Marhaenis.

Dan ada satu pembeda penting dari sebagian kaum Sukarnois lainnya: Angga tidak alergi terhadap kaum feminis.

Kalau sebagian orang mengaku Sukarnois, tetapi berhenti pada simbol, Angga nggetih terhadap ajaran Sukarno. Ia mengunyah gagasannya, memperdebatkannya, membawanya ke persoalan zaman, dan—yang paling penting—kelakuannya sejalan dengan omongan dan pikirannya.

Baginya, Pancasila sebagai ideologi pembebasan tidak boleh dipersempit menjadi slogan kebangsaan atau seremoni. Penghayatan Pancasila sebagai ideologi pembebas berlaku universal: pembebasan ekonomi, politik, dan sosial.

Karena itu perlawanan terhadap feodalisme, kapitalisme, kolonialisme, bapakisme dan patriarki sesungguhnya berada dalam satu tarikan napas.

Roh yang dilawannya sama:

dominasi manusia atas manusia lain.

Dan dominasi itu bertentangan dengan jiwa demokratis yang menjadi dasar perjuangannya.

Karena itu, bagi Angga, membela Marhaen tidak mungkin berhenti pada buruh dan petani. Ia juga harus membela perempuan. Ia harus melihat kerja-kerja perawatan. Ia harus melihat PRT. Ia harus melihat Palestina. Ia harus melihat siapa pun yang martabat kemanusiaannya dirampas oleh struktur kekuasaan yang menindas.

Mungkin itulah sebabnya ia begitu cepat memahami care economy. Ia melihat bahwa kerja yang selama ini dianggap “kodrat perempuan” sesungguhnya adalah kerja yang menopang kehidupan dan ekonomi. Dan mereka yang mengerjakannya—kaum Sarinah—berhak atas martabat, perlindungan dan keadilan.

Bung Angga, buku tentang Sarinah itu belum sempat kau tulis. Tetapi gagasannya sudah kau tinggalkan kepada kami.

Engkau telah mengajarkan bahwa membaca Bung Karno tidak cukup dengan menghafal pidatonya. Kita harus menghidupkan rohnya: keberpihakan kepada yang tertindas, keberanian melawan dominasi, dan keyakinan bahwa kemerdekaan tidak pernah selesai selama masih ada manusia yang belum merdeka.

Selamat jalan, Bung Angga.

Kawan sekaligus guru kami.

Engkau akan selalu ada dalam roso lan cipto kaum Marhaenis—dalam rasa, pikiran dan kehendak untuk terus melawan demi pembebasan.

Kami akan melanjutkan jalan itu.

Untuk kemerdekaan yang utuh.
Untuk martabat kemanusiaan.
Untuk Indonesia.
Untuk Palestina.
Untuk dunia yang lebih adil.

Sebagaimana telah kau teladankan.

Selamat jalan, Bung Angga.

Merahmu tidak akan padam meski kau hari ini akan menyatu dengan Ibu Bumi, Ibu Pertiwi yang kita cintai.

*Penulis adalah Direktur Institut Sarinah