JAKARTA, BERITA SENAYAN – Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji, mengingatkan kader dan anggota Pengajian Al-Hidayah agar menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keteladanan tersebut tidak harus dimulai dari perkara besar, tetapi dapat diwujudkan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil.

Pesan itu disampaikan Sarmuji dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar DPP Pengajian Al-Hidayah di Ballroom Lantai II Grha DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Peringatan Maulid Nabi tersebut mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW untuk Menguatkan Keluarga, Umat, dan Persatuan Bangsa.” Sekitar 250 peserta hadir secara langsung, sementara pengurus DPD Pengajian Al-Hidayah di berbagai daerah dan masyarakat mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom dan YouTube.

Sarmuji mengatakan, salah satu cara paling nyata untuk menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah dengan mengikuti perilaku dan kebiasaan yang beliau contohkan.

Menurutnya, umat Islam tidak perlu menunggu melakukan sesuatu yang besar untuk mulai meneladani Rasulullah. Banyak ajaran dan kebiasaan sederhana yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan adab ketika masuk rumah, makan, hingga masuk kamar mandi.

“Masuk rumah dengan kaki kanan, makan dengan tangan kanan, masuk kamar mandi dengan kaki kiri. Itu hal-hal kecil yang bisa kita teladani,” ujar Sarmuji.

Bagi Sarmuji, kebiasaan sederhana tersebut memiliki arti penting karena keteladanan Rasulullah seharusnya hadir dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya dibicarakan ketika memperingati Maulid Nabi.

Sarmuji menjelaskan, Rasulullah SAW memiliki sisi kemanusiaan yang sangat dekat dengan kehidupan umat. Karena itu, kehidupan beliau dapat menjadi rujukan bagi berbagai kalangan dalam menjalankan perannya masing-masing.

Seorang suami, misalnya, dapat meneladani Rasulullah dalam membangun kehidupan keluarga. Demikian pula seorang pemimpin dapat belajar dari cara Rasulullah menjalankan kepemimpinan.

“Kalau kita seorang suami, kita bisa belajar dari Rasulullah karena beliau juga seorang suami. Kalau kita pemimpin, beliau juga seorang pemimpin,” katanya.

Menurut Sarmuji, sisi kemanusiaan Rasulullah justru penting untuk terus dipelajari karena umat dapat melihat secara langsung bagaimana beliau menjalani kehidupan, menghadapi persoalan, memperlakukan orang lain, dan menunjukkan kasih sayang kepada umat.

Jangan Hanya Mengagumi, tetapi Mengikuti

Peringatan Maulid Nabi, lanjut Sarmuji, merupakan bentuk kecintaan umat Islam kepada Rasulullah Muhammad SAW. Namun, rasa cinta tersebut semestinya tidak berhenti pada ungkapan maupun kegiatan seremonial. Kecintaan kepada Nabi harus diterjemahkan dalam bentuk tindakan nyata.

Ia mendorong kader dan anggota Al-Hidayah untuk menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan keluarga maupun bermasyarakat.

Menurutnya, semakin banyak kebiasaan baik Rasulullah yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, semakin nyata pula makna peringatan Maulid Nabi.

Sarmuji juga mengingatkan besarnya perhatian Rasulullah Muhammad SAW kepada umatnya. Menurut dia, kecintaan Rasulullah kepada umat menjadi salah satu alasan penting mengapa umat Islam terus memperingati kelahiran beliau.

Ia menyebut Rasulullah sebagai sosok yang sangat memikirkan kondisi umat. Karena itu, kecintaan umat kepada Rasulullah semestinya dibalas dengan mengikuti akhlak dan tuntunan yang beliau ajarkan.

“Rasulullah itu sangat mencintai umatnya,” kata Sarmuji.

Ia berharap momentum Maulid Nabi dapat semakin mendekatkan kader Al-Hidayah kepada sosok Rasulullah, bukan hanya secara emosional, tetapi juga melalui praktik kehidupan sehari-hari.

Al-Hidayah Perkuat Peran Perempuan

Sementara itu, Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah, Hetifah Sjaifudian, mengatakan peringatan Maulid Nabi juga menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan kehidupan kebangsaan.

Menurut Hetifah, perempuan dan ibu memiliki posisi strategis dalam membangun keluarga yang kuat. Nilai-nilai keteladanan Rasulullah perlu diterapkan dalam kehidupan keluarga sehingga dapat membentuk generasi yang memiliki karakter dan akhlak.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, Al-Hidayah juga terus didorong untuk meningkatkan kapasitas perempuan agar mampu memanfaatkan teknologi secara positif. Hetifah menambahkan, semangat meneladani Rasulullah juga harus diwujudkan melalui kepedulian sosial dan penguatan persaudaraan.

Menurutnya, perbedaan latar belakang, pilihan maupun pandangan tidak seharusnya menghilangkan semangat persatuan. Al-Hidayah dapat menjadi jembatan persaudaraan yang memperkuat hubungan antarumat dan masyarakat.

Melalui peringatan Maulid Nabi, DPP Pengajian Al-Hidayah berharap kecintaan kepada Rasulullah SAW semakin mendorong lahirnya keluarga yang kuat, perempuan yang berdaya, masyarakat yang peduli, serta bangsa yang semakin bersatu (red)