JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota DPR RI Fraksi PKB, Syafiuddin Asmoro, mendukung pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura di Kabupaten Bangkalan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Madura.
Menurut Syafiuddin, pengembangan kawasan industri tersebut berpotensi menjadi magnet investasi sekaligus membuka peluang besar bagi masyarakat Madura untuk memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.
Ia menilai kerja sama internasional Two Countries Twin Parks (TCTP) antara Indonesia dan Tiongkok menjadi momentum penting untuk mendorong percepatan pembangunan kawasan industri tersebut.
“Yang paling penting, pengembangan kawasan industri ini harus berdampak langsung terhadap kesejahteraan warga Madura. Industri yang masuk harus membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat setempat,” tegas Syafiuddin, Kamis (20/08).
Syafiuddin mengatakan masuknya investasi ke Madura harus diikuti regulasi yang mampu memberikan kepastian kepada investor sekaligus melindungi kepentingan masyarakat lokal. Pemerintah, kata dia, perlu segera menindaklanjuti nota kesepahaman antara Indonesia dan Tiongkok dengan regulasi yang jelas mengenai pengembangan kawasan industri.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pembebasan lahan masyarakat. Syafiuddin mengusulkan agar pemerintah tidak serta-merta mendorong penjualan seluruh lahan milik warga. Sebagai alternatif, sebagian lahan dapat dilepas dan sebagian lainnya digunakan melalui skema kerja sama investasi sehingga masyarakat tetap memiliki keterlibatan ekonomi dalam pengembangan kawasan.
“Masyarakat Madura harus menjadi tuan di rumahnya sendiri. Jangan sampai kawasan industrinya berkembang, investasinya besar, tetapi masyarakat lokal justru hanya menjadi penonton,” katanya.
Dorong Penyerapan Tenaga Kerja Lokal
Syafiuddin menilai keberadaan industri harus memberikan ruang yang luas bagi tenaga kerja lokal. Ia meminta pemerintah memastikan industri yang masuk ke Kawasan Industri Wiraraja Madura tidak hanya berorientasi pada nilai investasi dan ekspor, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal akan menentukan apakah pengembangan kawasan industri benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan Madura. Kerja sama dengan Tiongkok tersebut diketahui diarahkan pada sejumlah sektor industri, mulai dari polyester, benang, tekstil, cokelat atau kakao, matras, furnitur, plastik, hingga industri pengalengan ikan.
Syafiuddin melihat diversifikasi industri tersebut dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat rantai produksi di Madura.
Selain persoalan investasi dan tenaga kerja, Syafiuddin meminta pemerintah melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat sebelum pembangunan kawasan industri berjalan lebih jauh. Menurut dia, pemerintah perlu melibatkan berbagai elemen masyarakat Madura, terutama tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat.
Ia menyebut setidaknya terdapat tiga kelompok tokoh yang perlu dilibatkan, yakni ulama, pejabat pemerintahan seperti kepala desa, camat dan kepala daerah, serta tokoh blater.
“Pemerintah harus mengajak bicara tokoh Madura. Ini penting agar masyarakat memahami arah pengembangan kawasan industri, sekaligus dapat menyampaikan aspirasi dan harapannya,” ujar politikus PKB dari Dapil Jawa Timur XI tersebut.
Syafiuddin optimistis pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Pertumbuhan industri diperkirakan akan diikuti munculnya pusat-pusat ekonomi dan bisnis baru, seperti pertokoan, kuliner, perhotelan, jasa transportasi, pusat perdagangan, hingga UMKM.
Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya mempersiapkan kawasan industri, tetapi juga membangun ekosistem pendukung yang memungkinkan masyarakat lokal mengambil manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut.
Syafiuddin juga mengingatkan agar pembangunan kawasan industri tetap memperhatikan karakter sosial dan budaya masyarakat Madura.
“Yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan kawasan industri itu harus menyesuaikan dengan budaya dan kearifan lokal. Masyarakat Madura terkenal agamis, maka industri juga harus menyiapkan musala atau masjid,” tegas mantan anggota DPRD Jawa Timur itu.
Dengan demikian, Syafiuddin berharap Kawasan Industri Wiraraja Madura tidak sekadar menjadi kawasan investasi baru, tetapi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat Madura (red)

Berita terkait