SURABAYA, BERITA SENAYAN – Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Ermarini menegaskan penguatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor maritim menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem kemaritiman nasional yang modern, mandiri, dan mampu bersaing di tingkat global. Menurutnya, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan sistem transportasi laut dan industri maritim yang lebih kuat.
Pernyataan tersebut disampaikan Anggia saat memimpin Kunjungan Kerja Reses Komisi VI DPR RI ke PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/7/2026).
“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memerlukan ekosistem maritim yang kuat, modern, dan berdaya saing,” tegas Anggia Ermarini.
Politisi Fraksi PKB itu menjelaskan, penguatan sektor maritim harus dilakukan melalui konsolidasi BUMN, termasuk memperkuat PT PAL Indonesia dan mendorong investasi strategis melalui Danantara Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat kemandirian industri nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia sebagai negara maritim.
Selain itu, Komisi VI DPR RI juga menyoroti tingginya ketergantungan perusahaan pelayaran pelat merah terhadap dana Public Service Obligation (PSO). Salah satunya adalah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), yang masih mengandalkan PSO hingga sekitar 74 persen.
Menurut Anggia, BUMN pelayaran harus didorong agar mampu memperkuat sisi komersial. Namun, upaya tersebut harus dibarengi dengan program peremajaan armada, mengingat masih banyak kapal operasional yang telah berusia puluhan tahun.
Ia menilai kapal-kapal yang telah beroperasi hingga 50 tahun tidak hanya berisiko terhadap aspek keselamatan, tetapi juga menyebabkan tingginya biaya operasional akibat sering mengalami kerusakan. Kondisi tersebut dinilai menghambat efisiensi dan pengembangan bisnis perusahaan.
Dalam kesempatan itu, Anggia juga mendorong optimalisasi aset Pelindo melalui pengembangan kawasan Pelabuhan Benoa, Bali, khususnya dengan memperpanjang area tambat kapal pesiar (cruise). Menurutnya, langkah tersebut dapat meningkatkan lama kunjungan kapal, mendongkrak pendapatan pelabuhan, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Tempat bersandarnya diperpanjang supaya kapal bisa bersandar lebih lama dan menambah revenue. Di situ juga bisa dibangun ruang bagi UMKM, sehingga ekosistem dan perekonomian masyarakat sekitar ikut berkembang,” pungkas Anggia (red)

Berita terkait