JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menilai Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji sebagai sosok yang berani mengkritik Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, kritik tersebut lahir karena kepedulian agar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu tetap berjalan di jalur yang benar.

Pernyataan itu disampaikan Cak Imin saat membuka pertandingan persahabatan menjelang final Mini Soccer Tournament Panji Bangsa dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di BRIlian Stadium, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).

“Pak Sarmuji, yang paling kontekstual adalah Sekjen Golkar yang berani mengkritik NU,” ujar Cak Imin di hadapan peserta turnamen.

Cak Imin mengatakan dirinya dan Sarmuji memiliki latar belakang yang sama sebagai warga Nahdlatul Ulama. Karena itu, ia menilai kritik yang disampaikan bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan organisasi.

“Jadi sama, saya dan Pak Sarmuji sama-sama orang NU yang tidak ingin NU salah jalan,” katanya.

Dengan nada bercanda, Cak Imin mengaku tidak banyak politisi yang berani menyampaikan kritik secara terbuka.

“Ini agak aneh, ya. Politisi yang mengkritik itu ada. Tapi oke, kita inginnya yang terbaik,” ucapnya.

Sebelumnya, Cak Imin juga sempat menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan NU menjelang Muktamar NU. Ia menilai organisasi tersebut membutuhkan pemimpin baru yang mampu menghadirkan pembaruan.

“Ya pemimpin yang baru. Saat ini butuh pemimpin baru yang fresh,” kata Cak Imin pada Minggu (12/7/2026).

“Karena yang lama sudah lima tahun enggak ada perubahan,” tambahnya.

Adapun Sarmuji sebelumnya menyampaikan pandangan bahwa NU sebaiknya memperkuat perannya sebagai kekuatan civil society yang memberikan nasihat kepada negara, tanpa terlalu larut dalam politik praktis.

Dalam diskusi bertajuk Bincang-bincang Menjelang Muktamar NU: NU Masa Depan dan Masa Depan NU di Jakarta, Kamis (2/7/2026), Sarmuji menilai NU justru akan semakin diperhitungkan apabila fokus pada politik kebangsaan.

“Maka dibutuhkan betul organisasi seperti NU yang bisa menasihati negara supaya tetap dalam track yang benar dengan cara yang lebih bisa diterima. NU tidak perlu sibuk siapa yang menang pemilu dan siapa yang menang pilpres,” ujar Sarmuji.

Ia juga berharap NU mengurangi keterlibatan dalam apa yang disebutnya sebagai “politik kecil” dan lebih memperkuat kontribusi pada “politik besar” yang berorientasi pada kepentingan bangsa (red)