YOGYAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin, menilai kesepakatan sementara berbentuk MoU antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas geopolitik Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memicu perubahan signifikan pada perekonomian global, termasuk penguatan nilai tukar rupiah.

Menurutnya, meredanya ketegangan dua negara tersebut dapat membuka kembali jalur distribusi energi dunia dan menurunkan tekanan harga minyak internasional yang selama ini menjadi faktor utama ketidakpastian pasar global.

“Dengan ditandatanganinya MoU ini, paling tidak Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Ini tentu positif bagi iklim politik dan ekonomi global karena distribusi energi dunia menjadi lebih lancar,” ujar Nurul Arifin di Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).

Ia menjelaskan, jika arus energi kembali normal, maka harga minyak dunia berpotensi turun dan stabilitas ekonomi global bisa lebih terjaga. Kondisi ini dinilai akan berdampak langsung pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kalau situasi di sana stabil, harga minyak berpotensi turun, nilai tukar dolar lebih stabil, dan rupiah juga bisa semakin menguat. Jadi dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang berkonflik, tetapi juga negara lain termasuk Indonesia,” katanya.

Namun, Nurul menegaskan bahwa MoU tersebut masih bersifat awal dan berlaku terbatas selama 60 hari. Karena itu, masih diperlukan negosiasi lanjutan untuk menyelesaikan isu-isu strategis seperti program nuklir Iran serta pencabutan sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik selama ini kerap menjadi pemicu gejolak ekonomi yang berdampak pada stabilitas sosial dan politik di berbagai negara.

“Banyak persoalan politik yang berawal dari tekanan ekonomi, sehingga ketika ekonomi membaik maka stabilitas nasional juga akan lebih terjaga,” ujarnya.

Nurul berharap proses dialog antara Amerika Serikat dan Iran dapat berlanjut hingga menghasilkan kesepakatan yang lebih permanen, sehingga memberikan kepastian bagi perekonomian dunia dan dampak positif yang berkelanjutan bagi Indonesia.

Dengan perkembangan ini, ia menilai Indonesia perlu terus memantau dinamika global agar dapat mengantisipasi peluang maupun risiko yang muncul dari perubahan peta ekonomi internasional (red)