JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, Marwan Jafar, mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor global setelah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan nilai tukar rupiah yang semakin dalam.
Menurut Marwan, persoalan utama yang saat ini dihadapi Indonesia bukan semata-mata perlambatan ekonomi, melainkan menurunnya tingkat kepercayaan pelaku pasar terhadap kepastian hukum dan arah kebijakan pemerintah.
“Data menunjukkan bahwa sebenarnya investor global tidak sedang menjauhi pasar negara berkembang, melainkan secara spesifik mengurangi eksposur investasi mereka di Indonesia. Masalah utama bukan soal kemampuan ekonomi kita untuk tumbuh, melainkan runtuhnya kredibilitas dan kepastian hukum Indonesia di mata pasar,” kata Marwan di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Ia menyoroti derasnya arus modal keluar (capital outflow) yang tercermin dari aksi jual bersih investor asing mencapai Rp66,20 triliun sepanjang tahun berjalan. Kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan karena terjadi ketika sejumlah pasar negara berkembang lain justru mencatatkan kinerja positif.
Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi itu menilai ketidakpastian kebijakan menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran investor. Menurutnya, pasar keuangan kerap dikejutkan oleh berbagai regulasi baru yang muncul tanpa komunikasi yang memadai kepada publik maupun pelaku usaha.
Marwan mencontohkan, saat pasar masih beradaptasi dengan implementasi kebijakan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE), pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan baru mengenai pajak UMKM yang memicu ketidakpastian.
“Kebijakan yang suka muncul ujug-ujug misterius ini memberikan pukulan beruntun bagi kenyamanan berinvestasi. Pasar saat ini sebenarnya tidak lagi mencari alasan untuk menjual saham mereka, tetapi mereka sedang mencari alasan untuk berhenti menjual,” ujarnya.
Karena itu, Marwan meminta pemerintah menghentikan praktik pengumuman kebijakan ekonomi yang mendadak dan tanpa peta jalan yang jelas. Ia menilai setiap kebijakan strategis harus dikomunikasikan secara transparan agar tidak memicu spekulasi negatif di pasar.
Selain itu, ia juga meminta Bank Indonesia mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas rupiah agar tidak menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang berpotensi memicu kepanikan di sektor riil.
Menurut Marwan, pemerintah juga harus memberikan jaminan pengelolaan fiskal yang kredibel untuk mempertahankan kepercayaan lembaga pemeringkat internasional serta menjaga status Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang kompetitif.
“Pemerintah harus segera memberikan sinyal yang kuat bahwa Indonesia tetap memiliki kepastian hukum, kebijakan yang terukur, dan komitmen menjaga stabilitas ekonomi. Tanpa itu, kepercayaan investor akan semakin sulit dipulihkan,” pungkasnya (red)

Berita terkait